Showing posts with label HIZBUT TAHRIR. Show all posts
Showing posts with label HIZBUT TAHRIR. Show all posts

Sunday, January 10, 2010

Dari Buku: “Tokoh-tokoh Yang Berpengaruh Abad 20″, Herry Mohammad, dkk, GIP 2006

(Biografi Syekh Abdul Aziz Al-Badri)

Menyampaikan kebenaran kepada para penguasa yang dzalim. Berdakwah lewat tulisan, lisan, dan perbuatan.

SYEKH Abdul Aziz Al Badri (Lahir di kota Samira’, Irak, tahun 1929), terlahir dari lingkungan Islami yang berjuang untuk dakwah. Masa kecilnya diisi dengan tarbiyah Islamiyah yang intensif. Sejumlah ulama besar di Baghdad, seperti Syekh Amjad Az-Zahawi, Syekh Muhammad Fuad Al-Alusi, Syekh Abdul Qadir Al-Khatib pernah menjadi gurunya.

Abdul Aziz dikenal sebagai seorang ulama yang kritis terhadap para penguasa. Sebagai kritisi atas perilaku para penguasa, sudah menjadi ciri khas ulama yang satu ini. Seakan hendak mengikuti jejak Hamzah–paman Nabi saw–sebagai penghulu para syuhada, Syekh Abdul Aziz Al-Badri adalah ulama pemberani yang berdiri di hadapan penguasa, mengatakan yang haq, menasehati para pemimpin negeri agar taat terhadap hukum-hukum Allah SWT. Karena itu pula ia menjemput syahid.

Jalan dakwah adalah pilihan yang telah dimantapkan oleh Syekh Abdul Aziz Al Badri. Jalan dakwah tersebut dijalaninya dengan penuh semangat, keberanian dan teladan yang baik, sebagaimana para salafus saleh terdahulu. Kesibukan sehari-harinya selalu diwarnai dengan dakwah, memberikan nasihat, pengarahan dan khotbah, di masjid-masjid di Baghdad, dan lain-lain. Kepiawaiannya dalam berdakwah tak diragukan lagi. Ia adalah seorang orator ulung, berani dalam menyatakan yang haq, penuh semangat ketika mendakwahkan Islam dan selalu siap beradu argumentasi terhadap ide-ide destruktif di luar Islam. Abdul Aziz selalu siap menantang mereka di mana dan kapan saja, mematahkan argumentasi, menyingkap kebobrokan dan kepalsuan ide-ide serta strategi-strategi mereka, hingga mereka berpaling darinya.

Dalam buku Hukmul Islam fil Isytirakiyah, Abdul Aziz menentang habis-habisan pendapat yang menyatakan adanya sosialisme dalam Islam. Dalam kata pengantar buku tersebut yang ditulis oleh Syekh Amjad Az-Zahawi, ditulis, “Ketika tersebar pendapat ada bentuk sosialisme tertentu dalam Islam, Syekh Abdul Aziz Al-Badri segera mengkaunter perkataan tersebut, dengan menjelaskan tidak ada sosialisme dalam Islam. Sosialisme justru bertentangan dengan hukum-hukum Islam yang mulia dan kaedah-kaedah Islam menolaknya. Dalam mengkaunter ide-ide menyimpang tersebut, Abdul Aziz Al Badri selalu menggunakan bahasa yang gamblang dan didukung oleh dalil-dalil qath’i sehingga tidak ada ruang untuk ragu-ragu, karena sesuai dengan nash-nash syariat yang qath’i.

Pemikiran Syekh Abdul Aziz Al Badri banyak dipengaruhi oleh pemikiran Syekh Taqiyuddin An Nabhany(pendiri Hizbut Tahrir) , terutama mengenai ide-ide kebangkitan umat, perbandingan ideologi dan fiqh daulah. Untuk menyerbarkan ide-idenya itulah ia menulis buku, di antaranya adalah:

Al-Islam bainal Ulama wal Hukkam

Hukmul Islam fil Isytirakiyah

Al-Islam alal Isytirakiyah war Ra’sumaliyah

Al-Islam Dhaminul Hajat Al-Asasiyah li Kulli Fard

Kitabullah Al-Khalid Al-Qur`anul Karim

Dalam bukunya Al-Islam bainal Ulama’ wal Hukkam, Syekh Abdl Aziz Al Badri menjelaskan perjalanan hidup ulama salaf, ulama aktivis, dan fuqaha mujahidin, yang menghadapi kedzaliman dan orang-orang dzalim, dalam memperjuangkan izzul Islam wal muslimin. Buku tersebut mengisahkan teladan-teladan dakwah yang rela berjuang dan berani menghadapi penguasa dzalim demi terucapnya kalimat haq. Disebutlah Said bin Al Musayyib, Said bin Jubir, Ja’far Ash-Shadiq, Abu Hanifah, Malik bin Anas, Ibnu Hanbal, Syafi’i, Al-Bukhari, Izz bin Abdus Salam, dan Ibnu Taimiyah.

Selain itu, buku tersebut juga menceritakan tentang jihadnya para ulama, seperti Abdullah bin Al-Mubarak, Ibnu Taimiyah, Asad bin Furat, dan lain-lain. Ia juga membahas sikap ulama khalaf, seperti Ahmad As-Sirhindi, Ahmad bin Irfan Al-Hindi, Izzuddin Al-Qassam, Abdul Qadir Al-Jazairi, Muhammad Al-Mahdi, Ahmad As-Sanusi, Umar Al-Mukhtar, ulama aktivis, dan pejuang yang tulus lainnya.

Ustadz Abdullah Al-Husaini dalam kata pengantar buku Syekh Abdul Aziz Al-Badri berjudul Al-Islam bainal Ulama wal Hukkam pada cetakan kedua yang diterbitkan oleh Darul Qalam Kuwait tahun 1986 menulis, “Pada perang 1967, Yahudi menyerbu Al-Quds, Tepi Barat, Dataran Tinggi Golan, dan Sinai, selama enam hari atau bahkan enam jam. Syekh Al-Badri kelihatan marah sekali. Beliau mengirim telegram kepada pemimpin negara-negara Islam, membebankan pada mereka tanggung jawab terhadap Al-Quds, dan menuduh orang-orang yang menyetujui gencatan senjata sebagai penghianat. Ia juga membentuk delegasi nasional Islam yang berkeliling ke dunia Islam, untuk mendorong kekuatan dan massa Islam bangkit memikul tanggung jawab terhadap krisis ini dan menegaskan Islam bukan sebab kekalahan, karena di perang sama sekali tidak ada nama Islam. Delegasi ini mengunjungi India, Pakistan, Indonesia, Malaysia, Iran, dan Afghanistan.

Setelah delegasi tersebut kembali ke Baghdad, Syekh Abdul Aziz Al-Badri menyelenggarakan konferensi pers untuk menjelaskan apa yang ia saksikan di dunia Islam, yaitu potensi yang tidak tergarap, padahal seharusnya dapat didayagunakan untuk membantu kasus Palestina. Ia tidak setuju krisis ini dikatakan krisis lokal dunia Arab saja, bukan krisis umum dunia Islam yang luas. Ia khawatir penyempitan area krisis ini terus berlanjut, sebab itu berarti kelak krisis Palestina menjadi persoalan internal bangsa Palestina saja.”

Keberanian Al-Badri dalam menyampaikan kebenaran tidak pilih-pilih. Dalam setiap kesempatan, baik itu khutbah ataupun ceramah-ceramah ke-Islaman, Syekh Abdul Aziz Al-Badri selalu menyampaikan kalimat haq walaupun dihadapan penguasa. Abdul Karim Qasim, penguasa Baghdad pada saat itu, memerintah dengan ‘tangan besi’. Dia menobatkan dirinya sebagai “Penguasa Tunggal”. Tindakan ini langsung dikomentari oleh Al-Badri dengan menjuluki Abdul Karim Qasim sebagai ‘Orang kaku, kasar, dan terkenal kejahatannya’.”

Koreksi Syekh Abdul Aziz Al-Badri terhadap pemerintah mencapai puncaknya ketika Abdul Karim Qasim menetapkan hukuman mati kepada sebagian komandan pasukan yang ikhlas, seperti Nazhim Ath-Thabqajali, Rafa’at Haji Siri, dan lain-lain. Syekh Abdul Aziz Al-Badri pun menggerakkan massa dan memimpin demonstrasi besar yang jumlahnya diperkirakan mencapai empat puluh ribu demonstran. Semuanya menuntut lengsernya Abdul Karim Qasim. Syekh Abdul Aziz Al-Badri juga mengeluarkan fatwa memvonis kafir orang-orang komunis yang menjadi pembela dan pendukung Abdul Karim Qasim. Abdul Aziz Al-Badri menuntut memerangi dan menggagalkan rekayasa jahat mereka.

Atas tindakan tersebut, Abdul Karim Qasim akhirnya menetapkan status tahanan rumah kepada Syekh Abdul Aziz Al Badri selama setahun penuh dari 2 Desember 1959 sampai 7 Agustus 1960. Namun, perjuangan Al Badri tidak terhenti hanya karena tahanan rumah tersebut. Ketika hukuman ini dicabut, Abdul Aziz Al Badri tidak menghentikan khotbah-khotbahnya, memobilisasi massa untuk melawan Abdul Karim Qasim dan antek-anteknya. Atas tindakannya tersebut, kembali ia dijatuhi hukuman untuk kedua kalinya, dengan menetapkan status tahanan rumah.

Catatan :

Beliau wafat karena kekejaman rezim Saddam Hussain , mengenai kekejaman saddam ini, Dr. Abbas Bakhtiar menulis : Diantara ratusan eksekusi dan pembunuhan , Saddam juga bertanggungjawab terhadap pembunuhan tokoh-tokoh agama dari Sunni seperti Sekh Abdul Aziz Al Badri , Al Shaikh Nadhum Al Asi, Al Sekh Al Shahrazori, Al Shekh Umar Shaqlawa, Al Shekh Rami Al Kirkukly, Al Shekh Mohamad Shafeeq Al Badri, Abdul Ghani Shindaladll ”( September 30, 2009 — titok priastomo)

Sunday, November 15, 2009

Amat Hina Mereka Yang Menyamakan Islam Dengan Demokrasi

Betapa rosak dan hinanya cara berfikir para pemimpin umat Islam hari ini yang menyatakan Islam seiring dengan demokrasi. Inilah hasil dari pemikiran sekular yang tertancap kukuh di benak pemikiran para pemimpin ini. Sungguh malang bagi umat Islam hari ini apabila para pemimpin mereka tidak dapat membezakan antara hak dengan yang batil, tidak dapat memisahkan cahaya dan kegelapan dan yang paling hina, tidak dapat memilih dengan betul antara Islam dan kekufuran. Nampaknya musuh-musuh Islam telah berjaya menjadikan para pemimpin sekular ini jurubicara mereka ditengah-tengah kehidupan umat Islam hari ini. Mereka ini tidak lain merupakan produk Barat yang berjaya dicetak pemikirannya agar selari dan seiring dengan kehendak Barat.

Wahai para pemimpin sekular umat Islam! Apakah kamu sedar apa yang telah kamu perkatakan? Kamu begitu berani menyamakan Islam dengan sistem kufur demokrasi. Apakah kamu sedar bahawa tidak ada Deen yang lebih tinggi dari selain Islam. Sabda Rasulullah SAW: “Islam itu tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi daripadanya”. Hanya Islamlah satu-satunya ad-Deen/cara hidup yang diterima oleh Allah SWT.

"Sesungguhnya agama (yang benar dan diredai) di sisi Allah ialah Islam". [TMQ A-li ‘Imraan (3) :19].

"Dan sesiapa yang mencari agama selain agama Islam, maka tidak akan diterima daripadanya, dan dia pada hari akhirat kelak dari orang-orang yang rugi". [TMQ A-li ‘Imraan (3) : 85].

Dalil-dalil al-Quran dan hadith di atas begitu jelas! Lantas kenapakah kamu begitu berani menyamakan Islam dengan demokrasi?

Wahai para pemimpin sekular umat Islam! Islam adalah Deen yang datangnya dari Allah SWT sementara demokrasi adalah sistem pemerintahan yang diciptakan oleh manusia! Mana mungkin Islam seiring dengan demokrasi!

Wahai para pemimpin sekular! Tidakkan kamu sedar bahawa Rasulullah SAW diutus dengan ad-Deen yang haq berserta al-Quran mulia untuk diizharkan mengatasi agama / sistem kehidupan yang lain?

“Dialah yang telah mengutus RasulNya (Muhammad) dengan membawa petunjuk dan agama yang benar (agama Islam), untuk dimenangkan dan ditinggikannya atas segala agama yang lain, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukainya”. [TMQ At-Taubah (9) : 33].

Janganlah kamu menambahkan lagi kehinaan ke atas kamu dengan terus mengekalkan dan mempertahankan sistem kufur Barat, malah menyamakannya dengan Islam!!

Dari Mykhilafah.com

Friday, November 13, 2009

Isu Bai'at

Mutakhir ini, perkembangan dakwah Islam semakin menonjol dengan drastik. Banyak kesan yang boleh diperhatikan termasuk penggunaan pelbagai istilah baru dalam persada dakwah. Yang jelas, telah berlaku banyak kekeliruan dalam penggunaan pelbagai istilah termasuk oleh beberapa gerakan Islam. Kerapkali, sikap terburu-buru dalam menggunakan istilah tertentu menyebabkan banyak kekeliruan yang boleh mengakibatkan dampak yang buruk bukan sahaja ke atas gerakan tersebut malah ke atas Islam itu sendiri.

Sekalipun masih belum jelas kedudukan taklik yang dijadikan syarat “bai’ah” dalam upacara pencalonan calon PAS, hakikatnya, apa yang perlu kita lakukan sebenarnya adalah menyelami dan memahami apakah istilah ini sesuai untuk digunakan dalam konteks ini atau sebaliknya. Dari segi bahasa, bai’ah sering dikaitkan dengan ketaatan dan kesetiaan. Sedangkan dari segi istilah, bai’ah merupakan ketaatan kepada seorang khalifah yang wajib menerapkan Islam secara menyeluruh. Dalam ertikata lain, bai’ah merupakan akad perlantikan (restu) dari umat kepada seorang calon Khalifah melestarikan kehidupan Islam di bawah sistem Khilafah. Ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW dari Abu Sa’id al-Khudri r.a,

“Jika (terjadi) bai’at kepada dua orang Khalifah, maka bunuhlah yang terakhir dari keduanya” [HR Muslim]

Nyata sekali Islam hanya mengiktiraf bai’ah kepada Khalifah, bukan selainnya. Penggunaan istilah bai’ah untuk motif selain dari yang telah ditetapkan oleh syarak adalah merupakan satu kesalahan besar yang boleh mengelirukan umat dari maksud sebenarnya.

Kaedah Menangani Perbezaan Pendapat

Dalam menangani masalah perbezaan pendapat di kalangan umat Islam, Syeikh Taqiyuddin Al-Nabhani memberikan komentar, “Sedangkan pemahaman terhadap hukum Islam tidak hanya bergantung pada akal semata-mata, semestinya dengan pengetahuan tentang bahasa Arab, kemampuan menggali hukum, dan pengetahuan tentang hadis-hadis yang sahih dan juga yang dha’if (lemah). Berdasarkan hal ini maka para pengembang dakwah hendaknya menganggap bahawa pemahaman mereka terhadap hukum-hakam syarak adalah pemahaman yang benar, meski ada kemungkinan salah. Begitu pula hendaknya para pengembang dakwah menganggap pemahaman orang lain itu salah, meski ada kemungkinan benar. Hal ini akan membuka peluang kepada mereka untuk berdakwah menyampaikan Islam dan hukum-hakamnya sesuai dengan pemahaman dan istinbath mereka terhadap hukum-hukum tersebut. Hendaknya mereka mencuba mengubah pemahaman orang lain yang dinilai salah meski ada kemungkinan benar, supaya mengikuti pemahamannya, iaitu pemahaman yang dianggapnya benar meskipun ada kemungkinan salah. Berdasarkan hal ini, pengembang dakwah tidak boleh mengatakan tentang pendapatnya, ‘bahawa pendapat ini adalah pendapat Islam’ (pendapat lain tidak Islam). Yang seharusnya mereka katakan adalah ‘pendapat ini merupakan pendapat yang (bersifat) Islami’. Para pemuka mazhab dari kalangan mujtahidin menganggap bahawa istinbath mereka terhadap hukum-hakam syara’ adalah benar, namun ada kemungkinan salah. Mereka masing-masing selalu mengatakan: “Apabila hadis tersebut benar (sahih) itulah mazhabku dan buang jauhlah pendapatku”. Pengembang dakwah harus menganggap bahawa pendapat yang ditentukannya atau yang telah mereka usahakan dan sampai pada pendapat yang dipilihnya itu berasal dari Islam dan sesuai dengan apa yang mereka fahami, dan itu adalah pendapat yang benar meski ada kemungkinan salah.” [Mafahim Hizbut Tahrir, hal.70].

Monday, November 9, 2009

Keturunan Syeikh Yusuf Bin Ismail An-Nabhani pengasas Hizbut Tahrir

Pertama sekali mari kita kenali siapa Syeikh Yusuf Bin Ismail An-Nabhani :-

Imam al-Qadhi Yusuf bin Ismail bin Yusuf bin Ismail bin Muhammad Nashiruddin an-Nabhani dilahirkan pada tahun 12g5H / 1849M di Ijzim, Palestine. Beliau dilahirkan dalam keluarga yang amat mementingkan urusan dan ilmu agama. Ayahandanya adalah seorang ulama sholeh yang hafal al-Quran. Di antara wirid ayahandanya tersebut adalah mengkhatamkan al-Quran 3 kali khatam setiap minggu.

Di bawah asuhan ayahandanya, beliau telah menghafal al-Quran dengan baik. Dalam usia 17 tahun, beliau dihantar oleh ayahandanya ke Mesir untuk meneruskan pengajian di Universiti al-Azhar asy-Syarif yang masyhur. Di Mesir beliau belajar dengan ramai ulama terkemuka, antaranya Syaikhul Masyaikh Ustadzul Asaatidzah al-'Allaamah Syaikh Ibrahim as-Saqaa asy-Syafi`i, al-'Allaamah Syaikh Sayyid Muhammad ad-Damanhuri asy-Syafi`i, al-'Allaamah Syaikh Ibrahim az-Zurru al-Khalili asy-Syafi`i, al-'Allaamah Syaikh Ahmad al-Ajhuri adh-Dharir asy-Syafi`i, al-'Allaamah Syaikh Hasan al-'Adawi al-Maliki, al-'Allaamah Syaikh Sayyid 'Abdul Hadi Naja al-Ibyari, Syaikhul Azhar al-'Allaamah Syaikh Syamsuddin Muhammad al-Anbabi asy-Syafi`i, al-'Allaamah Syaikh 'Abdur Rahman asy-Syarbini asy-Syafi`i, al-'Allaamah Syaikh 'Abdul Qadir ar-Raafi`ie al-Hanafi ath-Tharablusi, al-'Allaamah Syaikh Yusuf al-Barqawi al-Hanbali dan ramai lagi untuk disenaraikan. Setelah tamat pengajian di al-Azhar dalam bidang Syariah, beliau kembali ke Ijzim. Di samping berdakwah dan mengajar, beliau tetap belajar kepada para ulama yang ada di merata tempat, antaranya dengan Syaikh Mahmud Effendi Hamzah.


Sepanjang kariernya, Syaikh Yusuf pernah menjawat jawatan-jawatan seperti Qadhi Besar atau Ketua Hakim di Ladhiqiyya, Palestine, Ketua Hakim bagi al-Quds, Palestine dan akhirnya menjadi Ketua Hakim Beirut, Lubnan sehinggalah bersara. Setelah bersara beliau menumpukan sepenuh masanya untuk beribadah dan menetap lama di negeri kekasihnya, Junjungan Nabi SAW, Kota Madinah al-Munawwarah. Dalam kesibukannya, beliau masih sempat untuk menulis dan karya tulisannya yang ilmiah dan berbobot amatlah banyak meliputi berbagai bidang ilmu termasuklah ilmu hadits, sirah Junjungan Nabi SAW, ilmu sanad dan tafsir. Daripada karangannya yang banyak itu, disenaraikan di sini 50 karya beliau seperti berikut:-

1.الفتح الكبير في ضم الزيادة إلى الجامع الصغير
2.منتخب الصحيحين
3.وسائل الأصول إلى شمائل الرسول صلى الله عليه و سلم
4.افضل الصلوات على سيد السادات صلى الله عليه و سلم
5.الأحاديث الأربعين في وجوب طاعة أمير المؤمنين
6.النظم البديع في مولد الشفيع صلى الله عليه و سلم
7.الهمزية الألفية (طيبة الغراء) في مدح سيد الأنبياء
8.الأحاديث الأربعين في فضائل سيد المرسلين
9.الأحاديث الأربعين في أمثال أفصح العالمين
10.قصيدة سعادة المعاد في موازنة بانت سعاد
11.مثال نعله الشريف صلى الله عليه و سلم
12.حجة الله على العالمين
13.سعادة الدارين في الصلاة على سيد الكونين صلى الله عليه و سلم
14.السابقات الجياد في مدح سيد العباد صلى الله عليه و سلم
15.خلاصة الكلام في ترجيح دين الإسلام
16.هادي المريد إلى طرق الأسانيد
17.الفضائل المحمدية
18.الورد الشافي على الأدعية و الأذكار النبوية
19.المزدوجة الغراء في الإستغاثة بأسماء الله الحسنى
20.نجوم المهتدين في معجزاته صلى الله عليه و سلم
21.إرشاد الحيارى
22.جامع الثناء على الله
23.مفرج الكروب
24.حزب الإستغاثات
25.أحسان الوسائل في نظم أسماء النبي الكامل
26.البرهان المسدد في إثبات نبوة سيدنا محمد صلى الله عليه و سلم
27.دليل التجار إلى أخلاق أخيار
28.المجموعة النبهانية في المدائح النبوية
29.سبيل النجاة في حب في الله و البغض في الله
30.القصيدة الرائية الكبرى

31.الرائية الصغرى في ذم البدعة و مدح السنة الغراء
32.جواهر البحار في فضائل النبي المختار صلى الله عليه و سلم
33.تهذيب النفوس
34.إتخاف المسلم
35.جامع كرامات الأولياء
36.العقود اللؤلؤية
37.الدلالات الواضحات
38.رياض الجنة في أذكار الكتاب و السنة
39.الشرف المؤبد لآل محمد صلى الله عليه و سلم
40.الأنوار المحمدية
41.تفسير قرة العين
42.شواهد الحق
43.الأساليب البديعة في فضل الصحابة و إقناع الشيعة
44.حسن الشرعية في مشروعية صلاة الظهر بعد الجمعة
45.تنبيه الأفكار
46.الرحمة المهداة في فضل الصلاة
47.الأربعين من أحاديث سيد المرسلين صلى الله عليه و سلم
48.الصلوات الألفية في الكمالات المحمدية
49.البشائر الإيمانية في المبشرات المنامية
50.الأسماء فيما لسيدنا محمد من الأسماء

Syaikh Yusuf juga terkenal dengan kuat beribadah dan ramai yang menyatakan bahawa beliau termasuk dalam kalangan wali Allah yang diberikan berbagai karamah. Kecintaan beliau kepada Junjungan Nabi SAW tidak boleh disangkal lagi, kerana beliau sungguh-sungguh mengamalkan sunnah-sunnah baginda serta sentiasalah beliau menyebut-nyebut akan Junjungan Nabi SAW pada lisannya dan dalam karangannya baik berupa sholawat maupun berbagai syair-syair pujian kepada Junjungan Nabi SAW. Manusia menyaksikan pada wajah beliau terpancar cahaya kesholehan. Syaikh Yusuf wafat di Beirut pada awal Ramadhan 1350H / 1932M setelah menghabiskan umurnya dalam ketaatan dan kecintaan kepada Allah SWT dan rasulNya SAW. Rahmat Allah ke atas beliau sentiasa dan moga ditempatkan dalam syurga yang penuh kenikmatan di samping kekasihnya Junjungan Nabi SAW. .... al-Fatihah.

Sekarang mari kita kenali pula keturunan Syeikh Yusuf Bin Ismail An-Nabhani yang mendapat didikan terus daripadanya iaitu pengasas Hizbut Tahrir Syeikh Taqiyuddin An-Nabhani.

Beliau adalah Syeikh Muhammad Taqiyuddin bin Ibrahim bin Musthafa bin Ismail bin Yusuf An-Nabhani. bahasa Arab: تقي الدين النبهاني‎; Gelaran “an-nabhani” dinisbahkan kepada kabilah Bani Nabhan, yang termasuk orang Arab penghuni padang sahara di Palestin. Mereka bermukim di daerah Ijzim yang termasuk dalam wilayah Haifa di Palestin Utara.

Kelahiran dan Pembesaran

Syeikh An-Nabhani dilahirkan di daerah Ijzim pada tahun 1909. Beliau mendapat pendidikan awal dari ayahnya sendiri iaitu seorang alim yang faqih fid-din. Ayah beliau seorang pengajar ilmu-ilmu syariah di Kementerian Pendidikan Palestin. Ibunya pula menguasai beberapa cabang ilmu syariah, yang diperoleh dari datuknya, Syeikh Yusuf bin Ismail bin Yusuf an-Nabhani. Beliau adalah seorang qadhi (hakim), penyair, sasterawan, dan salah seorang ulama terkemuka dalam Daulah Utsmaniyah.

Syeikh Yusuf an-Nabhani adalah termasuk tokoh sejarah masa akhir Khilafah Utsmaniyah. Beliau berpendapat bahawa Khalifah Utsmaniyah merupakan penjaga agama dan akidah, simbol kesatuan kaum Muslimin, dan mempertahankan institusi umat. Syeikh Yusuf bertentangan dengan Muhammad Abduh dalam metode tafsir. Muhammad Abduh menyerukan perlunya penakwilan nas agar tafsir merujuk pada tuntutan keadaan dan waktu. Beliau juga bertentangan dengan Jamaluddin al-Afghani, Muhammad Abduh dan murid-muridnya yang sering menyerukan reformasi agama. Menurut beliau, tuntutan reformasi itu meniru Protestan. Dalam Islam tidak ada reformasi agama (seperti dalam pemahaman Protestan). Beliau juga menentang gerakan misionaris dan sekolah-sekolah misionaris yang mulai tersebar pada ketika itu.

Oleh kerana itu, di samping seorang ulama yang faqih, Syeikh Yusuf an-Nabhani juga terkenal sebagai seorang politikus yang selalu memperhatikan dan mengurus urusan umat. Berkenaan Syeikh Yusuf An-Nabhani, beberapa penulis biografi menyebutkan,

“(Dia adalah) Yusuf bin Ismail bin Yusuf bin Hasan bin Muhammad an-Nabhani asy Syafi’i. Julukan baginya ialah Abu al-Mahasin. Dia adalah seorang penyair, sufi, dan termasuk salah seorang qadhi yang terkemuka. Dia menangani peradilan (qadha’) di Qushbah Janin, yang termasuk wilayah Nablus. Kemudian beliau berpindah ke Constantinople (Istanbul) dan diangkat sebagai qadhi untuk menangani peradilan di Sinjiq yang termasuk wilayah Moshul. Beliau kemudian menjawat jawatan sebagai ketua Mahkamah Jaza’ di al-Ladziqiyah, sebelum berpindah ke al-Quds. Selanjutnya beliau menjabat sebagai ketua Mahkamah Huquq di Beirut. Beliau mengarang banyak kitab yang jumlahnya mencapai hingga 80 buah.”

Pembesaran Syeikh Taqiyuddin dalam suasana keagamaan seperti itu, ternyata mempunyai pengaruh yang besar dalam pembentukan keperibadian dan pandangan hidupnya. Syeikh Taqiyuddin telah menghafal Al-Quran dalam usia yang amat muda, iaitu sebelum beliau mencapai umur 13 tahun. Beliau banyak mendapat pengaruh dari datuknya, Syeikh Yusuf an-Nabhani dalam banyak hal. Syeikh Taqiyuddin juga sudah mulai mengerti masalah-masalah politik yang penting, di mana datuk beliau menempuh atau pun mengalami peristiwa-peristiwa tersebut secara langsung kerana hubungannya yang rapat dengan para Khalifah Daulah Utsmaniyah saat itu. Beliau banyak menimba ilmu melalui majlis-majlis dan diskusi-diskusi fiqih yang diselenggarakan oleh datuknya.

Kecerdasan dan kecerdikan Syeikh Taqiyuddin yang menonjol tatkala mengikuti majlis-majlis ilmu tersebut telah menarik perhatian datuknya. Oleh sebab itu, datuk beliau begitu memerhatikan Syeikh Taqiyuddin dan berusaha meyakinkan ayah beliau –Syeikh Ibrahim bin Musthafa– mengenai perlunya menghantar Syeikh Taqiyuddin ke al-Azhar untuk melanjutkan pendidikan beliau dalam ilmu syariah.


Ilmu dan Pendidikan

Syeikh Taqiyuddin menerima pendidikan dasar mengenai ilmu syariah dari ayah dan datuk beliau, yang telah mengajarkan Al-Quran sehingga beliau hafal al-Quran seluruhnya sebelum baligh. Di samping itu, beliau juga mendapatkan pendidikan awalnya di sekolah tempatan iaitu di sekolah awal daerah Ijzim. Kemudian beliau berpindah ke Akka untuk melanjutkan pendidikannya ke sekolah menengah. Sebelum beliau menamatkan sekolahnya di Akka, beliau telah bertolak ke Kaherah untuk meneruskan pendidikannya di al-Azhar, menyahut saranan dari datuknya, Syeikh Yusuf an-Nabhani.

Syeikh Taqiyuddin kemudian meneruskan pendidikannya di Tsanawiyah al-Azhar pada tahun 1928 dan pada tahun yang sama beliau meraih ijazah dengan predikat sangat memuaskan (mumtaz jiddan). Lalu beliau melanjutkan pembelajarannya di Kulliyah Darul Ulum yang waktu itu merupakan cabang al-Azhar dan secara bersamaan beliau juga belajar di Universiti al-Azhar. Beliau banyak menghadiri halqah-halqah ilmiah di al-Azhar yang dianjurkan oleh tokoh-tokoh ulama al-Azhar, seperti Syeikh Muhammad Al-Khidir Husain –rahimahullah– seperti yang pernah disarankan oleh datuk beliau. Menurut sistem lama al-Azhar, para mahasiswanya dapat memilih beberapa orang syeikh al-Azhar dan menghadiri halqah-halqah mereka dalam ilmu bahasa Arab dan ilmu-ilmu syariah lainnya seperti fiqih, usul fiqih, hadis, tafsir, tauhid dan sebagainya.

Walaupun Syeikh Taqiyuddin berada dalam sistem pembelajaran al-Azhar yang lama dengan Darul Ulum, akan tetapi beliau tetap menampakkan keunggulan dan keistimewaan dalam setiap pembelajarannya. Syeikh Taqiyuddin telah menarik perhatian kawan-kawan dan para gurunya kerana kedalamannya dalam berfikir serta kuatnya pendapat serta hujah yang beliau lontarkan dalam perdebatan-perdebatan dan diskusi-diskusi ilmiah yang diselenggarakan oleh lembaga-lembaga ilmu yang ada pada waktu itu, baik di Kaherah mahupun di negeri-negeri Islam lainnya. Syeikh Taqiyuddin menamatkan kuliahnya di Darul Ulum pada tahun 1932 dan pada tahun yang sama beliau menamatkan pula kuliahnya di al-Azhar asy-Syarif

Dalam forum-forum halqah ilmiah yang diikuti oleh Syeikh Taqiyuddin, beliau amat dikenali oleh kawan-kawan dan sahabat-sahabat terdekatnya dari kalangan al-Azhar, sebagai seorang yang berfikiran tajam dan genius. Ini kerana, beliau akan memberikan hujah dan pendapat yang begitu kuat dan mendalam yang akan membuatkan orang tertarik dan yakin terhadap pandangannya.



Ijazah Yang Dimiliki
Ijazah yang diraih oleh Syeikh Taqiyuddin antaranya adalah:

1. Ijazah Tsanawiyah al-Azhariyah

2. Ijazah al-Ghuraba’ dari al-Azhar

3. Diploma Bahasa dan Sastera Arab dari Dar al-Ulum;

4. Ijazah dalam Peradilan dari Ma‘had al-Ali li al-Qadha’ (Sekolah Tinggi Peradilan), salah satu cabang al-Azhar.

5. Pada tahun 1932 beliau meraih Syahadah al-‘Alamiyyah (Ijazah Internasional) Syariah dari Universiti al-Azhar asy-Syarif dengan mumtaz jiddan.


Aktiviti Beliau Setelah Tamat Kuliah

Setelah menyelesaikan pendidikannya, Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani kembali ke Palestin, dan kemudian bekerja sebagai seorang guru di sebuah sekolah menengah tempatan di Haifa di bawah Kementerian Pendidikan Palestin. Di samping itu, beliau juga mengajar di sebuah Madrasah Islamiyyah lain di Haifa.

Beliau sering berpindah-randah lebih dari satu daerah dan sekolah semenjak tahun 1932 sehingga tahun 1938. Beliau kemudiannya mengajukan permohonan untuk bekerja di Mahkamah Syariah, kerana beliau melihat pengaruh imperialis Barat (“westernisasi”) dalam bidang pendidikan yang ternyata lebih besar daripada bidang peradilan. Dalam hal ini beliau berkomentar:

“Adapun golongan terpelajar, maka para penjajah di sekolah-sekolah missionaris mereka telah menetapkan sendiri kurikulum-kurikulum pendidikan dan tsaqafah berdasarkan falsafah dan hadharah (peradaban) yang khas dari kehidupan mereka, baik sebelum adanya pendudukan kaum imperialis tersebut mahupun sesudahnya. Lalu, tokoh-tokoh Barat dijadikan sumber tsaqafah (kebudayaan) sebagaimana sejarah dan kebangkitan barat dijadikan sumber asal bagi apa yang merosakkan cara berfikir kita.”

Oleh sebab itu, Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani lalu menjauhi bidang pengajaran dalam Kementerian Pendidikan, dan mulai mencari pekerjaan lain dengan pengaruh peradaban Barat yang relatif lebih sedikit. Beliau tidak melihat pekerjaan yang lebih utama selain pekerjaan di Mahkamah Syariah yang dipandangnya merupakan lembaga yang menerapkan hukum-hukum syara’. Dalam hal ini beliau berkata,

“Adapun an-Nizhamul Ijtima’iy, yang mengatur hubungan lelaki dan wanita, dan segala hal yang terbit darinya (yakni al-Ahwalu asy-Syakhshiyyah), tetap menerapkan syari’at Islam sehingga sekarang, meskipun telah berlaku penjajahan dan penerapan hukum-hukum kufur. Tidak diterapkan sama sekali selain syariat Islam dalam bidang itu sehingga saat ini…”

Maka dari itu, Syeikh Taqiyuddin sangat berkeinginan untuk bekerja di Mahkamah Syariah. Dan ternyata banyak kawan beliau (yang pernah sama-sama belajar di al-Azhar) bekerja di sana. Dengan bantuan mereka, Syeikh Taqiyuddin akhirnya diberi jawatan sebagai setiausaha di Mahkamah Syariah Beisan. Beliau kemudian dipindahkan ke Thabriya. Namun demikian, kerana beliau mempunyai cita-cita dan pengetahuan dalam masalah peradilan, maka beliau mengajukan permohonan kepada al-Majlis al-Islami al-A’la, agar menerima permohonannya untuk mendapatkan tanggungjawab menangani peradilan. Dalam hal ini, beliau merasakan dirinya mempunyai kelayakan yang mencukupi untuk menangani masalah peradilan.

Setelah lembaga peradilan menerima permohonannya, lalu beliau ke Haifa sebagai ketua setiausaha (Basy Katib) di Mahkamah Syariah Haifa. Kemudian pada tahun 1940, beliau diangkat sebagai Musyawir (Penolong Qadhi) dan beliau terus memegang kedudukan ini hingga tahun 1945, yakni saat beliau dipindah ke Ramallah untuk menjadi qadhi di Mahkamah Ramallah sehingga tahun 1948. Setelah itu, beliau keluar dari Ramallah menuju Syam setelah Palestin jatuh ke tangan Yahudi.

Pada tahun 1948 itu pula, sahabatnya al-Ustadz Anwar al-Khatib mengirim surat kepada beliau, yang isinya meminta beliau agar kembali ke Palestin untuk diangkat sebagai qadhi di Mahkamah Syariah al-Quds. Syeikh Taqiyuddin menerima permintaan itu dan kemudian beliau diangkat sebagai qadhi di Mahkamah Syariah al-Quds pada tahun 1948.

Kemudian, Al Ustadz Abdul Hamid As-Sa’ih iaitu Ketua Mahkamah Syariah dan Ketua Mahkamah Isti’naf pada waktu itu, telah mengangkat Syeikh Taqiyuddin sebagai anggota Mahkamah Isti’naf, dan beliau tetap memegang kedudukan itu sehingga tahun 1950. Pada tahun 1950 inilah, beliau lalu mengajukan permohonan mengundurkan diri, kerana beliau mencalonkan diri untuk menjadi anggota Majlis Niyabi (Majlis Perwakilan).

Pada tahun 1951, Syeikh an-Nabhani berkunjung ke kota Amman untuk menyampaikan ceramah-ceramahnya kepada para pelajar Madrasah Tsanawiyah di Kulliyah Ilmiyah Islamiyah. Usaha beliau ini berterusan sehingga awal tahun 1953, ketika beliau mulai sibuk dengan penubuhan Hizbut Tahrir, yang telah beliau rintis antara tahun 1949 hingga 1953

Aktiviti Politik
Sejak remaja Syeikh an-Nabhani sudah memulai aktiviti politiknya kerana pengaruh datuknya, Syeikh Yusuf an-Nabhani, yang pernah terlibat dengan diskusi-diskusi dengan orang-orang yang terpengaruh dengan peradaban Barat, seperti Muhammad Abduh, para pengikut idea pembaharuan, tokoh-tokoh Freemason, dan pihak-pihak lain yang tidak puas hati dan membangkang terhadap Daulah Utsmaniyah. Sejak usia muda, Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani telah bergelut dengan masalah-masalah politik ketika dibimbing oleh datuknya. Begitu pula ketika beliau mengikuti kuliah di Dar al-Ulum dan al-Azhar, Teman-teman beliau semasa kuliah menceritakan aktiviti beliau yang tidak pernah lelah dalam diskusi politik dan keilmuan. Mereka juga sangat menghargai sumbangan beliau dalam sejumlah diskusi politik. Di dalamnya beliau senantiasa mengkritik kemunduran umat serta mendorong aktiviti politik dan intelektual untuk membangkitkan umat dan mewujudkan kembali Daulah Islam. Beliau juga menggunakan kesempatan itu untuk mendorong dan mendesak para ulama al-Azhar dan lembaganya memainkan peranan aktif dalam membangkitkan umat.

Perdebatan-perdebatan politik dan aktiviti dakwah di antara para mahasiswa di al-Azhar dan di Kulliyah Darul Ulum, telah menyingkapkan pula keprihatinan Syeikh Taqiyuddin akan masalah-masalah politik. Beberapa orang sahabatnya telah menceritakan sikap-sikapnya yang melaungkan seruan-seruan yang bersifat menentang, yang mampu memimpin situasi al-Azhar saat itu. Di samping itu, beliau juga melakukan berbagai perdebatan dengan para ulama al-Azhar mengenai apa yang harus dilakukan dengan serius untuk membangkitkan umat Islam. Setelah kembali dari pembelajarannya di al-Azhar, beliau tetap memerhatikan usaha-usaha “westernisasi” umat Islam yang dilakukan oleh para penjajah seperti Inggeris dan Perancis. Beliau juga banyak menjalin hubungan dan berdialog dengan para ulama, tokoh pergerakan dan tokoh masyarakat setempat dalam usaha beliau membangkitkan kembali umat Islam.

Sebenarnya ketika Syeikh An-Nabhani kembali dari Kaherah ke Palestin, iaitu ketika beliau menjalankan tugasnya di Kementerian Pendidikan Palestin, beliau sudah melakukan kegiatan yang cukup menarik perhatian, yakni memberikan kesedaran kepada para murid yang diajarnya dan orang-orang yang ditemuinya mengenai situasi yang ada pada saat itu. Beliau juga membangkitkan perasaan marah dan benci terhadap penjajah Barat dalam jiwa muridnya, di samping memperbaharui semangat mereka untuk berpegang teguh terhadap Islam. Beliau menyampaikan semua ini melalui khutbah-khutbah, dialog-dialog, dan perdebatan-perdebatan yang beliau lakukan. Pada setiap topik yang beliau sajikan. Hujah beliau senantiasa kuat. Beliau memang dikenal mempunyai kemampuan yang tinggi untuk meyakinkan orang lain.

Ketika beliau berpindah pekerjaan ke bidang peradilan, lalu beliau berusaha menjalin hubungan dengan para ulama yang beliau kenal dan beliau temui di Mesir. Kepada mereka beliau mengajukan idea untuk membentuk sebuah parti politik yang berasaskan Islam untuk membangkitkan kaum Muslimin dan mengembalikan kemuliaan dan kejayaan mereka.

Untuk tujuan ini pula, beliau berpindah-randah dari satu kota ke kota lain di Palestin dan mengajukan idea yang sudah mendarah daging dalam jiwa beliau itu kepada tokoh-tokoh terkemuka, baik dari kalangan ulama’ mahupun para pemikir. Kedudukan beliau di Mahkamah Isti’naf di al-Quds sangat membantu aktiviti beliau ini.

Dengan kelebihannya, beliau dapat menyelenggarakan berbagai seminar dan mengumpulkan para ulama dari berbagai kota di Palestin. Dalam kesempatan itu, beliau mengadakan dialog dengan mereka mengenai metode kebangkitan yang benar. Beliau banyak berdebat dengan para pendiri organisasi-organisasi sosial Islam (Jam’iyat Islamiyah) dan parti-parti politik yang bercorak nasionalis dan patriotik. Beliau menjelaskan kekeliruan langkah mereka, kesalahan pemikiran mereka, dan rosaknya kegiatan mereka. Selain itu, beliau juga sering melontarkan pelbagai masalah politik dalam khutbah-khutbah beliau dan pada majlis-majlis keagamaan di masjid-masjid, termasuklah di Masjidil Aqsa, masjid al-Ibrahim al-Khalil (Hebron) dan lain-lain.

Dalam kesempatan seperti itu, beliau selalu menyerang sistem-sistem pemerintahan di negeri-negeri Arab, dengan menyatakan bahawa semua itu merupakan rekayasa penjajah Barat, dan merupakan salah satu sarana penjajah Barat agar dapat terus mencengkam negeri-negeri umat Islam. Beliau juga sering membongkar strategi-strategi politik negara-negara Barat dan mengungkap niat-niat jahat mereka untuk menghancurkan Islam dan umatnya. Selain itu, beliau berpandangan bahawa kaum Muslimin berkewajiban untuk mendirikan parti politik yang berasaskan Islam.

Semua ini ternyata membuat Raja Abdullah bin al-Hussain marah, lalu dipanggillah Syeikh an-Nabhani untuk menghadap kepadanya, terutama kerana khutbah yang pernah beliau sampaikan di Masjid Raya Nablus. Beliau diminta hadir di suatu majlis lalu ditanya oleh Raja Abdullah mengenai apa yang menyebabkan beliau menyerang sistem-sistem pemerintahan di negeri-negeri Arab, termasuk juga negeri Jordan. Namun Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani tidak menjawab pertanyaan itu, malah berpura-pura tidak mendengar. Ini menyebabkan Raja Abdullah mengulangi pertanyaannya hingga tiga kali. Akan tetapi Syeikh Taqiyuddin tetap tidak menjawabnya.

Maka Raja Abdullah pun naik marah dan berkata kepada beliau, “Apakah kamu akan menolong dan melindungi orang yang kami tolong dan lindungi, dan apakah kamu juga akan memusuhi orang yang kami musuhi?”

Lalu, Syeikh Taqiyuddin berkata kepada dirinya sendiri, “Kalau aku lemah untuk mengucapkan kebenaran hari ini, lalu apa yang harus aku ucapkan kepada orang-orang sesudahku nanti?”

Kemudian Syeikh Taqiyuddin bangkit dari tempat duduknya seraya berkata, “Aku berjanji kepada Allah, bahawa aku akan menolong dan melindungi agamaNya dan akan memusuhi orang yang memusuhi (agama)Nya. Dan aku amat membenci sikap nifaq dan orang-orang munafik!”

Maka merah padamlah muka Raja Abdullah mendengarkan jawaban itu, sehingga dia lalu mengeluarkan perintah untuk menangkap Syeikh Taqiyuddin dan mengusirnya keluar dari majlis tersebut. Dan kemudian Syeikh Taqiyuddin benar-benar ditangkap. Namun, Raja Abdullah kemudiannya menerima permohonan maaf dari beberapa ulama atas sikap Syeikh Taqiyuddin tersebut lalu memerintahkan pembebasannya, sehingga Syeikh Taqiyuddin tidak sempat bermalam di tahanan.

[sunting] Pembentukan Parti Politik
Syeikh Taqiyuddin lalu kembali ke Al-Quds dan sebagai kesan dari kejadian tadi, beliau mengajukan pengunduran diri dan menyatakan, “Sesungguhnya orang-orang seperti saya sebaiknya tidak bekerja melaksanakan tugas pemerintahan apa pun.”

Syeikh Taqiyuddin kemudian mengajukan pencalonan dirinya untuk menduduki Majlis Perwakilan. Namun, oleh kerana sikapnya yang tegas, aktiviti politik serta usahanya yang bersungguh-sungguh untuk membentuk sebuah parti politik, dan keteguhannya berpegang kepada agama, maka akhirnya hasil undian menunjukkan bahawa Syeikh Taqiyuddin dianggap tidak layak untuk duduk dalam Majlis Perwakilan.

Namun demikian, aktiviti politik Syeikh Taqiyuddin tidak pernah terkandas dan tekadnya pun tidak pernah luntur. Beliau terus mengadakan pertemuan dan diskusi-diskusi, sehingga akhirnya beliau berhasil meyakinkan sejumlah ulama dan qadhi terkemuka serta para tokoh politik dan pemikir untuk membentuk sebuah parti politik yang berasaskan Islam. Setelah itu, beliau memberikan kepada mereka kerangka organisasi bagi penubuhan suatu parti dan konsep-konsep pemikiran yang dapat digunakan sebagai bekal tsaqafah bagi parti tersebut. Ternyata, pemikiran-pemikiran beliau ini dapat diterima dan dipersetujui oleh para ulama tersebut. Bermula dari sini, maka aktiviti beliau mula difokuskan kepada usaha pembentukan dan penubuhan Hizbut Tahrir.

Syeikh Taqiyuddin mula melakukan persiapan yang sesuai untuk struktur parti, pemikiran parti dan sebagainya. Persiapan awal ini sebenarnya bermula sejak 1949 lagi ketika beliau masih menjawat jawatan Qadhi di al-Quds. Pada tahun 1950 beliau menulis buku beliau yang pertama, iaitu Inqadz Filisthin (Membebaskan Palestin) di mana beliau merungkai akar yang sangat dalam, bahawa Islam telah hadir di Palestin sejak abad VII lagi, dan sebab utama kemunduran yang menerkam masyarakat Arab adalah kerana mereka telah menarik diri (dari Islam) dan menyerahkan diri pada kekuasaan penjajah. Jatuhnya Palestin ke tangan Yahudi tahun 1948 memberikan keyakinan kepada beliau, bahawa hanya aktiviti yang terorganisasi dan memiliki akar pemikiran Islam yang kuat sahajalah yang akan dapat mengembalikan kekuatan dan keagungan umat Islam.

Pada tahun 1950, An-Nabhani bercadang menghadiri satu Persidangan Kebudayaan Liga Arab di Alexandria, Mesir, namun beliau telah dihalang. Padahal, Menteri Pendidikan dan Qadhi Qudhat (Hakim Agung) waktu itu, iaitu Syeikh Muhammad al-Amin as-Sanqaythi, telah pun mengizinkannya untuk hadiri. Akhirnya, beliau mengirimkan surat yang sangat panjang kepada para peserta persidangan yang kemudian dikenali sebagai Risalah al-Arab. Beliau menekankan bahawa misi yang benar dan hakiki untuk Arab adalah Islam. Hanya dengan Islam sahajalah pemikiran dan kebangkitan kembali politik umat akan boleh dicapai. Malangnya tidak ada respons sama sekali dari para anggota persidangan terhadap surat ini. Hal ini lebih menguatkan keyakinan Syeikh Taqiyuddin sebelumnya, bahawa pendirian parti politik menjadi perkara yang sangat penting dan mendasar.

[sunting] Hizbut Tahrir Di dirikan
Oleh kerana itu, pada akhir 1952 dan awal 1953, seluruh persiapan diwujudkan dalam langkah yang praktis untuk mengumumkan kewujudan dan penubuhan Hizbut Tahrir. Lalu pada tahun 1953, Hizbut Tahrir telah didirikan dengan rasminya oleh Syeikh Taqiyuddin An-Nabhani di al-Quds.

Undang-undang kepartian Utsmani waktu itu masih diterapkan di Palestin. Ia memperuntukkan bahawa, cukup dengan telah disampaikannya permintaan penubuhan parti ke lembaga tertentu, dan cukup dengan publikasi bahawa permintaan itu telah diterima dan publikasi pendirian parti dilakukan, maka itu sudah dinilai sebagai izin rasmi bagi penubuhan parti dan izin bagi parti untuk melaksanakan aktivitinya. Saat itu belum ditetapkan aturan kepartian yang baru. Justeru, pengumuman mengenai pembentukan Hizbut Tahrir telah tersiar di Harian ash-Sharih edisi 14 Mac 1953, pada saat Syeikh Taqiyuddin mengajukan permohonan rasmi kepada Departemen Dalam Negeri Jordan. Di dalam surat itu, terdapat permohonan agar Hizbut Tahrir dibolehkan melakukan aktiviti politiknya. Di dalam surat tersebut juga, terdapat pula struktur organisasi Hizbut Tahrir dengan susunan sebagai berikut:


1. Taqiyuddin An-Nabhani, sebagai pemimpin/ketua Hizbut Tahrir.
2. Dawud Hamdan, sebagai wakil pemimpin merangkap Setiausaha.
3. Ghanim Abduh, sebagai Bendahara.
4. Dr. Adil An-Nablusi, sebagai anggota.
5. Munir Syaqir, sebagai anggota.


[sunting] Parti Politik Hizbut Tahrir
Dengan permohonan yang diajukan tersebut, diharapkan agar pihak berkuasa dapat memaklumi penubuhan sebuah parti politik iaitu Hizbut Tahrir. Lalu, Hizbut Tahrir telah menyewa sebuah rumah di kota al-Quds dan memasang papan tanda yang memaparkan nama “Hizbut Tahrir”. Akan tetapi Departemen Dalam Negeri Jordan terus mengirimkan sepucuk surat kepada Hizbut Tahrir yang melarangnya untuk melakukan aktivitinya. Di bawah ini adalah teks suratnya :


--------------------------------------------------------------------------------

No: ND/70/52/916 Tarikh: 14 Mac 1953

Kepada Yang Terhormat,

Syeikh Taqiyuddin An-Nabhani

dan seluruh pendiri Hizbut Tahrir

Saya telah meneliti berita yang disiarkan oleh surat khabar as-Sharih edisi hari ini yang berjudul, “Organisasi Pembebasan (Hai’atut Tahrir) : Pembentukan Parti Politik Secara Rasmi di Al Quds.”

Saya berharap dapat memberi pengertian kepada anda sekalian, bahawa apa yang disiar mengenai pembentukan parti secara rasmi di al-Quds itu, ternyata tidak dapat dibenarkan. Selain itu, kami ingin maklumkan bahawa surat balasan yang anda terima dari ketua pejabat saya, menunjukkan bahawa permohonan anda telah sampai kepada saya. Bahawasanya, Undang-Undang Dasar (Perlembagaan) yang ada tidak mengizinkan aktiviti anda sekalian. Hal itu kerana permohonan pembentukan parti, tergantung kepada kepentingan negara – seperti yang saya lampirkan melalui beberapa catatan yang dikirimkan kepada anda sekalian, yang ternyata tidak mengizinkan adanya pendirian parti.

Atas Nama Departemen Dalam Negeri,

Ali Hasanah


--------------------------------------------------------------------------------




Atas perintah pihak penguasa setelah datangnya surat tersebut, pihak polis segera menyerbu rumah yang disewa oleh Hizbut Tahrir tadi dan terus mencabut papan tanda (nama) yang ada di sana. Hizbut Tahrir lalu dilarang untuk melakukan sebarang kegiatan. Sejak saat itu, dan bahkan sehingga saat ini, Hizbut Tahrir tidak dibenarkan melakukan aktiviti politiknya secara bebas.

Namun demikian, Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani sama sekali tidak peduli dan tidak memperhitungkan semua itu. Bahkan, beliau tetap teguh dengan pendiriannya untuk melanjutkan misinya menyebarkan risalah yang telah beliau yakini sebagai asas-asas bagi Hizb. Beliau memang sangat menaruh harapan untuk membangkitkan umat Islam melalui Hizbut Tahrir, iaitu gerakan yang telah beliau dirikan dan yang beliau telah tetapkan falsafahnya dengan karakter-karakter tertentu yang beliau gali dari nas-nas syara’ dan sirah Rasulullah SAW.

Oleh kerana itu, Syeikh Taqiyuddin kemudian menjalankan aktivitinya secara rahsia dan segera membentuk Dewan Pimpinan (qiyadah) yang baru bagi Hizb, di mana beliau sendiri yang menjadi pucuk pimpinannya. Dewan Pimpinan ini dikenal dengan sebutan Lajnah Qiyadah. Beliau terus memegang kepemimpinan Dewan Pimpinan Hizbut Tahrir ini sehingga wafatnya pada tanggal 25 Rejab 1398H, bertepatan dengan 20 Jun 1977M.

Pada tahun yang sama (1953), pada masa kabinet Tawfiq Abdul Hadi, Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani bersama Ustadz Dawud Hamdan ditangkap di Al-Quds, sementara Munir Syaqir dan Ghanim Abduh ditangkap di Amman. Beberapa hari berikutnya, Dr. Abdul Aziz al-Khiyath turut ditangkap dan dimasukkan ke dalam penjara.

Pada waktu itu Hizbut Tahrir berhasil meyakinkan sejumlah wakil rakyat dan orang-orang kabinet di Amman. Akhirnya, sekelompok wakil rakyat, peguam, peniaga dan sejumlah orang yang memiliki kedudukan mengirimkan petisyen yang menuntut pihak berkuasa yang berkenaan agar membebaskan Syeikh Taqiyuddin dan teman-temannya. Petisyen itu ditandatangani oleh seramai 37 orang.

Dr. Abdul Aziz Al-Khiyath menceritakan,

“Tiga hari setelah saya masuk penjara, di pejabat ketua penjara, seorang yang sangat baik, H. Salim, terjadi diskusi antara kami dan utusan ketua Kabinet, Muhammad Ali Badir, Rasyid al-Khiyath, dan seorang wakil rakyat, Rasyad Thawqan. Diskusi membahas dakwah Islamiyah dan aktiviti Hizbut Tahrir. Kami menyatakan bahawa dalam aktiviti kami tidak ada yang menyalahi undang-undang, tidak ada seruan revolusi ataupun huru-hara, bahkan tidak ada seruan kepada kekerasan. Kami tidak lain kecuali menyerukan pemikiran kami dengan metode yang damai dan hal itu dijamin oleh Perlembagaan. Mereka sefahaman dengan kami. Hari berikutnya, kami dibebaskan.”

Glubb Pasya, seorang Inggeris yang kala itu menjadi Ketua Staf Angkatan Bersenjata Jordan, yang disebut Arab Legion of Inggeris Army -dialah yang sebenar-benarnya berkuasa di Jordan- mendesak pemerintahan boneka di Jordan untuk menggunakan semua sarana yang diperlukan untuk 'mencekup' Hizbut Tahrir dan aktivitinya. Pada tahun 1954 dikeluarkan Qanun al-Wa’zhu wa al-Irsyad yang menghalang seseorang dari menyampaikan ceramah, khutbah, atau pengajaran di masjid kecuali mendapat izin rasmi dari Qadhi Qudhat. Atas dasar UU ini, sejumlah tokoh Hizbut Tahrir ditangkap dan dimasukkan ke dalam penjara.

Pada November 1953, Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani berpindah ke Damaskus dan menyebarkan dakwah di sana, tetapi telah diheret oleh perisik Syiria ke perbatasan Syria-Lebanon. Namun, atas bantuan Mufti Lebanon, Syeikh Hasan al-‘Alaya, akhirnya beliau diizinkan masuk ke Lebanon yang mana sebelumnya dihalang begitu rupa.

Beliau lalu menyebarkan pemikiran Islam di Lebanon dengan leluasa sehingga tahun 1958, iaitu ketika pemerintah Lebanon mulai mempersempit kehidupan beliau kerana merasakan bahaya dari pemikiran yang beliau bawa. Akhirnya, beliau berpindah dari Beirut ke Tharablus dan terpaksa mengubah penampilan bagi membolehkan beliau menjalankan kepemimpinan Hizbut Tahrir.

Selama itu, beliau terus memegang Qiyadah (Kepemimpinan) HT. Beliau juga terus memantau berita baik dari surat khabar, berbagai media, radio, dan sebagainya, yang kemudiannya menulis analisis politik dan disebarkan atas nama HT.

Sepanjang masa kepemimpinannya, beliau telah melakukan berbagai kegiatan politik yang meluas di pelbagai tempat dan negara. Penyudah yang paling gemilang dari peninggalan beliau ialah beliau telah berjaya mewariskan kepada umat Islam di seluruh dunia, sebuah parti politik yang berasaskan Islam, yang teguh, mempunyai fikrah yang jernih dan kuat, dan kini tersebar luas di merata penjuru dunia .

Semua usaha beliau ini telah menjadikan Hizbut Tahrir sebagai sebuah parti politik internasional, dengan kekuatan Islam yang luar biasa, sehingga Hizbut Tahrir sangatlah diperhitungkan dan disegani oleh seluruh pemikir dan politikus, baik dari kaum Muslimin mahupun kuffar, baik yang bertaraf nasional mahupun internasional, walaupun dalam keadaan Hizbut Tahrir yang tetap dihalang dari beraktiviti di banyak negara di dunia.

Di bawah kepemimpinan beliau, Hizbut Tahrir telah berusaha mengambil alih kekuasaan di beberapa negara Arab, seperti di Jordan pada tahun 1969, di Mesir pada tahun 1973, dan di Iraq pada tahun 1972. Negara lain adalah seperti di Tunisia, Aljazair, dan Sudan. Sebahagian usaha ini disiarkan oleh media massa, sedang sebahagian lainnya memang sengaja tidak diumumkan oleh media.

Selain itu, Hizbut Tahrir telah mengeluarkan banyak selebaran (nasyrah) politik yang penting, yang mengungkapkan berbagai konspirasi jahat, baik dari pihak Barat mahupun agen-agen mereka dari kalangan penguasa kaum Muslimin, untuk menghancurkan Islam dan umatnya. Hizbut Tahrir juga banyak mengirimkan memorandum politik penting kepada para politikus dan penguasa di pelbagai negeri-negeri umat Islam, dengan maksud agar mereka menukar sistem sekular yang sedia ada dengan sistem Khilafah, atau dengan maksud memberi nasihat dan peringatan atas tindakan-tindakan mereka yang dianggap sebagai pengkhianatan kepada umat Islam.

Hakikatnya, aktiviti politik merupakan aspek yang paling menonjol dalam kehidupan Syeikh Taqiyuddin. Bahkan, sehingga ada yang berpendapat bahawa beliau adalah Hizbut Tahrir itu sendiri, kerana kemampuan beliau yang tinggi untuk melakukan analisis politik, sebagaimana yang nampak dalam penulisan selebaran politik yang dikeluarkan oleh Hizbut Tahrir. Beliau juga banyak menelaah peristiwa-peristiwa politik, lalu mendalaminya dengan amat cermat dan mendalam, disertai pemahaman sempurna terhadap situasi-situasi politik dan idea-idea politik yang ada.

Maka, mereka yang mencermati selebaran-selebaran politik yang dikeluarkan oleh Hizbut Tahrir, juga kitab-kitab mengenai politik yang ditulis oleh Syeikh Taqiyuddin, serta garis-garis besar langkah politik yang beliau susun untuk membina pemikiran politik syabab Hizbut Tahrir, akan dapat menyimpulkan bahawa Syeikh Taqiyuddin memang benar-benar mempunyai kemampuan yang hebat dalam masalah politik. Sungguh, beliau termasuk salah seorang pemikir dan politikus terulung pada abad ke-20.

[sunting] Meninggal Dunia
Syeikh Taqiyuddin An-Nabhani meninggal pada tahun 1398H / 1977M dan dikuburkan di Perkuburan Al-Auza’i, Beirut. Beliau telah meninggalkan karya-karya agung yang dapat dianggap sebagai kekayaan pemikiran yang tak ternilai harganya. Karya-karya ini menunjukkan bahawa Syeikh Taqiyuddin An-Nabhani merupakan seorang yang mempunyai pemikiran yang genius dan seorang penganalisis yang unggul. Beliaulah yang menulis seluruh pemikiran dan pemahaman Hizbut Tahrir, baik yang berkenaan dengan hukum-hukum syara’, mahupun yang lainnya seperti masalah ideologi, politik, ekonomi, sosial, pendidikan, uqubat dan sebagainya. Inilah yang mendorong sebahagian peneliti untuk mengatakan bahawa Hizbut Tahrir adalah Taqiyuddin An Nabhani, dan sehingga ada yang menyatakan bahawa Hizbut Tahrir adalah satu mazhab.

[sunting] Karya-karya Beliau
Kebanyakan karya Syeikh Taqiyuddin An-Nabhani berupa kitab-kitab tanzhiriyah (penetapan pemahaman/pandangan) dan tanzhimiyah (penetapan peraturan), atau kitab-kitab untuk mengajak kaum Muslimin untuk mengembalikan semula kehidupan Islam dengan jalan mendirikan Daulah Khilafah Islamiyah. Al-Ustadz Dawud Hamdan telah menjelaskan karakter kitab-kitab Syeikh Taqiyuddin – yang termasuk kitab-kitab yang disebarluaskan oleh Hizbut Tahrir– secara mendalam dan tepat dengan pernyataannya,

“Sesungguhnya kitab ini –yakni kitab Ad Daulah Al-Islamiyyah– bukanlah sebuah kitab untuk sekadar dipelajari, akan tetapi kitab ini dan kitab lainnya yang telah disebarluaskan oleh Hizbut Tahrir –seperti kitab Usus An-Nahdhah, Nizhamul Islam, An-Nizham Al-Ijtima’i fi Al-Islam, An-Nizham Al-Iqthishady fi Al-Islam, Nizham Al-Hukm, Asy-Syakhshiyah Al-Islamiyah, At-Takatul Al-Hizbi, Mafahim Hizhut Tahrir, Mafahim Siyasiyah li Hizbit Tahrir– menurut saya adalah kitab yang benar-benar membangkitkan kaum Muslimin dengan jalan mengembalikan kehidupan Islam dan mengembang dakwah Islamiyah.”

Oleh kerana itu, kitab-kitab Syeikh Taqiyuddin terlihat istimewa kerana mencakup dan meliputi berbagai aspek kehidupan dan permasalahan manusia. Kitab-kitab yang mengupas aspek-aspek kehidupan individu, politik, kenegaraan, sosial dan ekonomi tersebut, merupakan landasan ideologi dan politik bagi Hizbut Tahrir, di mana Syeikh Taqiyuddin menjadi motornya (penggeraknya).

Oleh sebab karya-karya Syeikh Taqiyuddin mencakup pelbagai bidang, maka tak hairanlah jika karya-karya beliau mencapai lebih dari 30 kitab. Ini belum termasuk memorandum-memorandum politik yang beliau tulis untuk memecahkan permasalahan politik, serta nasyrah-nasyrah dan penjelasan-penjelasan mengenai masalah-masalah pemikiran dan masalah-masalah politik yang penting.

Karya-karya Syeikh Taqiyuddin, baik yang berkenaan dengan politik mahupun pemikiran, mempunyai satu identiti yang sama iaitu dengan adanya kesedaran, kecermatan dan kejelasan, serta sangat sistematik, sehingga beliau dapat menampilkan Islam sebagai ideologi yang sempurna dan komprehensif yang diistinbath dari dalil-dalil syar’i yang terkandung dalam Al-Kitab dan As-Sunnah. Karya-karya beliau dapat dikategorikan sebagai “buah pemikiran” pertama yang disajikan oleh seorang pemikir Muslim pada era moden ketika itu dan hingga kini.

Karya-karya Syeikh Taqiyuddin An Nabhani yang paling terkenal, yang memuat pemikiran dan ijtihad beliau antara lain :

1. Nizhamul Islam.
2. At Takattul Al Hizbi.
3. Mahafim Hizbut Tahrir.
4. An Nizhamul Iqthishadi fil Islam.
5. An Nizhamul Ijtima’i fil Islam.
6. Nizhamul Hukm fil Islam.
7. Ad Dustur.
8. Muqaddimah Dustur.
9. Ad Daulatul Islamiyah.
10. Asy Syakhshiyah Al Islamiyah (3 jilid).
11. Mafahim Siyasiyah li Hizbut Tahrir.
12. Nazharat Siyasiyah li Hizbut Tahrir.
13. Nida’ Haar.
14. Al-Khilafah.
15. At-Tafkir.
16. Ad-Dusiyah.
17. Sur’atul Badihah.
18. Nuqthatul Inthilaq.
19. Dukhu Al-Mujtama’.
20. Inqadzu Filisthin.
21. Risalatul Arab.
22. Tasalluh Mishr.
23. Al-Ittifaqiyyah Ats-Tsana’iyyah Al-Mishriyyah As-Suriyyah wal Yamaniyyah.
24. Hallu Qadhiyah Filisthin ala Ath-Thariqah Al-Amrikiyyah wal Inkiliziyyah.
25. Nazhariyatul Firagh As-Siyasi Haula Masyru’ Aizanhawar.


Semua ini tidak termasuk ribuan selebaran-selebaran (nasyrah) mengenai pemikiran, politik, dan ekonomi serta beberapa kitab yang dikeluarkan oleh Syeikh Taqiyuddin atas nama anggota Hizbut Tahrir –dengan maksud agar kitab-kitab itu mudah beliau sebarluaskan– setelah adanya undang-undang yang melarang peredaran kitab-kitab karya beliau. Di antara kitab itu adalah :

1. As-Siyasah Al-Iqthishadiyah Al-Mutsla.
2. Naqdlul Isytirakiyah Al-Marksiyah.
3. Kaifa Hudimat Al-Khilafah.
4. Ahkamul Bayyinat.
5. Nizhamul Uqubat.
6. Ahkamush Shalat.
7. Al-Fikru Al-Islami.


Dan apabila karya-karya Syeikh Taqiyuddin tersebut ditelaah dengan ikhlas, adil dan saksama, terutama yang berkenaan dengan aspek hukum dan ilmu usul, akan nampak bahawa beliau sesungguhnya adalah seorang mujtahid yang mengikuti metode para fuqaha dan mujtahidin yang terdahulu. Hanya saja, beliau tidak pernah mengikuti salah satu mazhab/aliran dalam berijtihad, baik mazhab akidah seperti Ahlus Sunah atau Syiah, mahupun mazhab fiqh seperti Syafie, Maliki, Hanafi, Hambali dan sebaginya. Dengan kata lain, beliau tidak pernah mengikuti dan tidak pernah mengisytiharkan bahawa beliau mengikuti suatu madzhab tertentu di antara madzhab-madzhab yang telah dikenal, akan tetapi beliau memilih dan menetapkan (mentabanni) usul fiqih beliau sendiri yang khusus baginya, dan dari situ beliau mengistinbat hukum-hukum syara’. Dan usul fiqh serta ijtihad beliau ini, sebahagian besarnya dijadikan pegangan oleh seluruh umat Islam yang bergabung di dalam Hizbut Tahrir.

Namun perlu diingat dan ditegaskan di sini, bahawasanya usul fiqih yang dibawa oleh Syeikh Taqiyuddin An-Nabhani tidaklah keluar dari metode fiqih yang benar sebagaimana salafu soleh, yang membatasi dalil-dalil syar’i pada Al-Kitab, As-Sunnah, Ijma’ Shahabat, dan Qiyas syar’ie, semata-mata.

[sunting] Rujukan
1.Laman web Hizbut Tahrir Malaysia - Amir Hizbut Tahrir. [2]

2.Laman web Hizbut Tahrir Britain - Sheikh Muhammad Taqiuddin al-Nabhani. [3]

3.Utusan Malaysia. ARKIB : 17/11/2008. "Tokoh perjuangan dari Al-Azhar". Oleh MOHAMAD FIKRI ROSLY[4]

4.Blog syiardandakwahislam - Pendiri dan Amir Pertama Hizbut Tahrir. [5]

Diambil dari http://ms.wikipedia.org/wiki/Syekh_Taqiyuddin_An_Nabhani

SEJARAH KELAM BOLA SEPAK

Sejarah bola sepak bermula sejak daripada zaman Dinasti Han di China pada kurun ke-2 Sebelum Masehi. Ketika itu ia dimainkan oleh para tentera Dinasti Han sebagai aktiviti untuk mengekalkan kecergasan para tenteranya. Permainan tersebut dimainkan dengan cara menendang bola ke dalam jaring kecil. Orang-orang Greek dan Roman purba juga dicatatkan pernah bermain permainan seumpamanya yang melibatkan 27 orang.

Permainan ’sepak-menyepak’ di England dicatatkan seawal 1300-an, yang ketika itu hanya dimainkan dengan menendang kepala musuh yang dipancung. Pada zaman pertengahan, ia kemudiannya berkembang menjadi permainan bola yang membolehkan pemainnya menendang, menumbuk, menggigit dan memukul. Setelah permainan tersebut menjadi ganas, ia telah diharamkan oleh King Edward ke III, manakala di Scotland, King James I telah mengharamkannya pada 1424.

Pada 1815, sekolah terulung di Britain, Eton College telah memperkenalkan peraturan baru yang kemudiannya telah diikuti oleh semua sekolah dan Universiti di England. Idea ini kemudian telah dikembangkan oleh beberapa kelab bola sepak di London untuk menetapkan peraturan-peraturan baru tersebut di dalam permainan bola sepak. Ini membawa kepada mesyuarat bola sepak pertama di England pada 26 Oktober 1863 di sebuah Ibu pejabat Freemason yang terletak di Great Queen Street, London. Mesyuarat tersebut telah bersetuju untuk menubuhkan Persatuan Bola Sepak British. Sejak itu, pertandingan bola sepak mula diadakan di pelbagai peringkat.

Sehinggalah ke hari ini. England menjadi pusat pertandingan liga bola sepak yang terunggul di dunia. Hampir setiap pemain mengimpikan untuk bermain di sana. Apa tidaknya, di sinilah tempat kegemilangan, kecemerlangan dan keterbilangan bola sepak dunia. Tambahan lagi, negara ini pernah menjadi ’tuan’ kepada banyak negara lain, termasuklah Malaysia. Jadi tidak hairanlah jika negara ini cukup menarik perhatian ramai pemain mahupun peminat bolasepak, termasuk di tanahair. Yang hairannya, kaum Muslimin semacam lupa bahawa inilah negara pembunuh kedua terbesar umat Islam, selepas AS. Negara penyokong kuat AS dan senantiasa menanti peluang untuk menyembelih umat Islam.

’Bak Sihir yang Memukau’

Lenggok yang mempersonakan, kehebatan melepasi benteng pertahanan lawan, ketepatan penyudah merupakan aksi yang sentiasa dinanti-nantikan oleh para pencintanya. Penglihatan seolah-olah telah ‘digam’ di kaca TV ataupun skrin lebar. Hanya wisel separuh masa dan penamat sahaja yang dapat ‘menanggalkannya’. Bukan hanya seorang, tetapi berjuta-juta peminat terpukau dek pesona aksi bintang-bintang pujaan masing-masing. ’Benda bulat itu’ tidak mengenal manusia, muda atau tua, miskin atau kaya, hina atau mulia, yang berkulit hitam ataupun sawa, mereka akan setia menunggu setiap perlawanan, tidak kira apa waktunya. Semua kopi cap berjenama pasti laris untuk memastikan mata dapat disengkang di dalam masa sebulan ini, suatu amalan yang amat sukar dilakukan sebelum ini. Kesungguhan berjaga dan bangun malam ini amat menakjubkan! Alangkah baiknya jika senantiasa diamalkan oleh kaum Muslimin untuk bertahajjud dan bermunajat kepada Rabbnya.

’Aura’ temasya ini sangat berbeza dan jauh lebih hebat dari aura ’Akademi Fantasia’ ataupun ‘Malaysian Idol’. Ia seolah-olah telah berjaya meletakkan dunia di bawah pengaruhnya dengan pesona aksi pemain. Pemain-pemain ini tidak memerlukan mentera keramat untuk memukau. Mereka juga tidak perlu berada di hadapan mata para pencinta. Cukup sekadar menonton aksi menerusi paparan elektronik sudah memadai untuk ‘memukau’ jutaan manusia di seluruh dunia. Setiap mata begitu takut untuk berkelip terutama ketika aksi serangan dilakukan, semata-mata khuatir akan terlepas aksi menjaringkan gol. GOOOOOL!!! Itulah kata-kata yang mengakhiri sebuah penantian. Saat yang paling dinanti-nanti! Kata-kata yang menggembirakan hati musuh-musuh Allah dikala melihat dan mendengar ianya dilaungkan oleh umat Islam. Alangkah mulianya jika kaum Muslimin melaungkan takbir penyatuan dan kebesaran Allah, ALLAHU AKBAR!!!, di kala melihat kekejaman yang dilakukan oleh kaum kuffar ke atas saudaranya. Kata-kata yang paling dibenci dan ditakuti oleh musuh-musuh Allah. Itulah saat yang paling digeruni oleh Barat, apabila kaum Muslimin bangkit dari kealpaan mereka dan melafazkan apa yang pernah Rasulullah lafazkan!

Hari ini, fokus perbincangan umat Islam telah bertukar. Di mana-mana orang bercakap tentang bola, dari kedai kopi hinggalah ke pejabat menteri. ’Jatuh standard’ sekiranya tidak ikut serta dalam perbincangan, apatah lagi jika tidak mengetahui perkembangan-perkembangan terkini tentang perlawanan. Kejadian-kejadian lain yang menimpa umat Islam sudah tidak lagi menarik perhatian. Hidangannya telah basi dan perlu diketepikan, jika pun tidak dibuang. Gempa bumi di Yogyakarta, Indonesia, peristiwa pembunuhan di Iraq, Afghanistan, penderaan ke atas tahanan Islam di penjara Teluk Guatanamo, penghinaan ke atas Al-Qur’an, penghinaan ke atas Rasulullah dan banyak lagi peristiwa lainnya semakin pudar dari ingatan. Yang perlu diingat sekarang ialah keputusan-keputusan perlawanan terkini untuk menentukan pasukan mana yang akan berentap pada perlawanan akhir. Inilah yang paling dinanti – kemuncak kepada segala kealpaan. Berapa ramai yang akan mengambil cuti atau MC demi bola tercinta. Jika ada isteri yang ingin melahirkan anak sulung sekalipun, didoakan kepada Tuhan supaya tidak bersalin pada ketika ini, semata-mata tidak mahu terlepas dari ’kenikmatan dunia’ ini

Wahai kaum Muslimin! Jangan sekali-kali kamu terpukau dengan ’sihir’ baru ini sehingga melupakan kewajiban kamu, melupakan nasib yang menimpa saudara kamu. Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa Sallam menafikan seseorang itu sebagai sebahagian dari kaum Muslimin jika dia bangun pada pagi hari dan tidak menghiraukan apa yang telah berlaku ke atas saudara-saudaranya. Sabda baginda,

“Siapa sahaja yang bangun di pagi hari dan perhatiannya adalah kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka ia tidak berurusan dengan Allah. Dan barangsiapa yang bangun dan tidak memperhatikan urusan kaum Muslimin, maka ia tidak termasuk sebahagian daripada mereka (kaum Muslimin)” [HR Hakim dan al-Khathib dari Hudzaifah ra]

Hukum ‘Lahwun’ dan ’Lahwun Munadzzomun’

Bola sepak merupakan suatu permainan am iaitu "Lahwun" dalam bahasa Arabnya. Penggunaan kata lahwun terdapat di dalam Al Quran dan Al-Hadis. Rasulullah SallaLlahu ‘alaihi wa Sallam pernah bersabda "Hendaklah kalian sentiasa berlatih memanah kerana ia merupakan sebaik-baik lahwun" [HR. Al-Bazzar, At- Thabrani dan Sa'ad]. Lahwun di sini membawa maksud permainan. Sedangkan dalam surah Luqman:6: "Dan di antara manusia ada orang-orang yang mempergunakan lahwal Hadis". Erti lahwun di sini adalah senda gurau (dalam konteks orang kafir yang mengolok-olokkan ayat-ayat Allah) . Erti yang mencakup seluruh makna lahwun di dalam Al-Quran dan Al-Hadis adalah menyibukkan diri dalam mengerjakan sesuatu yang dilarang (haram/makruh) atau melakukan permainan yang mubah (boleh) yang mengakibatkan seseorang menjauhkan diri dari aktiviti melaksanakan perkara yang wajib dan sunnah.

Dalam pandangan Islam, sukan termasuk lahwun yang diperbolehkan. Di dalam masalah ini jenis sukan yang diunjurkan oleh Islam adalah sukan yang tujuannya membina setiap muslim untuk menjadi seorang mujahid, misalnya berkuda, memanah, menembak, merejam lembing, renang, lari, gusti dan silat. Tentu sahaja semua ini dibolehkan selagi ia tidak mengakibatkan tertinggalnya suatu kewajiban. Imam As-Syathibi menyatakan: "Hiburan, permainan dan bersantai adalah mubah atau boleh asal tidak terdapat suatu perkara yang terlarang." Selanjutnya beliau juga menambahkan: "Namun demikian, perkara tersebut tercela dan tidak disukai oleh para ulama'. Bahkan mereka tidak menyukai seorang lelaki yang dipandang tidak berusaha untuk memperbaiki kehidupannya di dunia dan tempat kembalinya di akhirat kelak, kerana ia telah menghabiskan waktunya dengan berbagai macam kegiatan yang tidak mendatangkan suatu hasil duniawi atau ukhrawi." Sebagaimana sabda Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa Sallam dalam satu Hadis yang diriwayatkan oleh Al-Hakim dengan sanad yang sahih: "Setiap permainan di dunia ini adalah batil kecuali tiga perkara: memanah, menjinakkan kuda dan bermain dengan isteri." Yang dimaksudkan dengan batil di sini ialah sia-sia atau yang seumpamanya, yang tidak berguna serta tidak menghasilkan buah yang dapat dipetik [lihat Al-Muwaafaqaat, Jilid l, m/s 84]. Selain yang dibolehkan, ada juga lahwun yang diharamkan oleh Islam seperti permainan judi dan juga apa-apa permainan mubah yang dibolehkan tetapi mengarah kepada yang haram atau meninggalkan kewajipan. Yang terakhir ini termasuk dalam kaedah syara': "Setiap sesuatu yang menghantarkan kepada yang haram, hukumnya haram ".

Lahwun munadzzomun (hiburan dan permainan yang terorganisasi) bermaksud suatu hiburan dan permainan yang telah diatur sedemikian rupa dengan pelbagai jenis program serta waktu penyelenggaraannya. Untuk itu maka dilantik beberapa orang pegawai, sehingga menjadi suatu misi penting menurut pandangan para pengaturnya. Cirinya yang paling menonjol adalah bersifat umum dan menyeluruh di pelbagai sektor kehidupan serta melibatkan seluruh lapisan masyarakat. Ia memiliki tujuan yang dapat menimbulkan berbagai macam bahaya terhadap umat dengan tidak memerhatikan tolok ukur yang benar iaitu halal dan haram. Permainan ini mempunyai pasukan tertentu (misalnya 3, 6 atau 11 orang pemain), pelatih, pengurus pasukan untuk peringkat kampung, mukim, daerah, negeri hingga peringkat kebangsaan bahkan ke peringkat benua dan antarabangsa. Setiap peringkat mempunyai pegawai yang tetap, masa-masa latihan dan jadual pertandingan sesuai dengan turutan di atas. Setiap pasukan mempunyai penyokong yang setia yang akan menghabiskan seluruh tenaga dan wang hanya untuk menyaksikan aksi pasukan idola mereka dan seterusnya mengharap akan kemenangannya. Mereka bermain ataupun menonton tanpa mengendahkan hukum-hukum syara' baik dalam ucapan, tingkah laku, berpakaian (apatah lagi wanita), mahupun penggunaan waktu.

Yang lebih dasyat, lahwun munadzzomun ini merupakan permainan yang jelas-jelas berasaskan assabiyyah (kebangsaan) dan wathaniyyah (patriotisme). Setiap orang akan bermain mati-matian untuk mempertahankan tempat, negeri, negara atau bangsa masing-masing. Bagi penonton, mereka akan merasa puas dan bangga bila pasukan tempat/negara mereka mengalahkan pasukan dari negara atau bangsa lain. Bagi pemain, perasaan tersebut lebih ketara. Mereka benar-benar berjuang dan merasa puas dengan kemenangan yang dicapai ’demi membela kehormatan bangsa dan negara'. Inilah hakikat lahwun munadzzomun, satu keharaman yang jelas lagi nyata!.

Umat Islam seharusnya menyedari tentang fakta lahwun munadzzomun agar dapat menghadapi bahaya yang tersembunyi. Umat hendaklah menyedari bahawa permainan atau hiburan yang terorganisasi itu telah dirancang oleh musuh-musuh Islam dan memiliki tujuan-tujuan yang sangat merbahaya yang mengancam nilai kehidupan yang sangat berharga dan mulia iaitu Islam.. Umat juga hendaklah mengetahui siapakah di sebalik segala pandangan tersebut serta mengetahui bagaimana cara menghadapinya. Mungkin ada kebenarannya pernyataan dalam Protokol ke 13 dari Protocols of Zion (diterbitkan pertama kali oleh Prof. Sergyei Nihrs di Rusia pada tahun 1902) dengan jelas menyebut bahawa gerakan Zionisme merancang untuk mengundang masyarakat, melalui akhbar-akhbar ketika itu, untuk mengikuti pelbagai perlawanan dalam setiap jenis sukan yang sudah diprogramkan. Kesenangan baru tersebut secara pasti melenakan masyarakat dari masalah-masalah konflik politik dengan orang-orang Yahudi. Secara beransur-ansur perkara itu akan menghancurkan kekuasaan berfikir masyarakat. Dengan demikian akan menjadikan warga Zionis sebagai anggota masyarakat yang siap dengan konsep-konsep baru.

Khatimah

Wahai mereka yang terpesona! Ingatlah akan firman Allah, "Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati semuanya itu akan dimintai pertanggungjawabannya" [TMQ Al-Israa':36]. Janganlah kalian terpedaya dengan program-program kaum Kuffar yang cuba untuk melalaikan umat Islam terhadap segala kekejaman, penindasan dan pembunuhan yang telah mereka lakukan ke atas umat Islam. Sedarlah bahawa sudah sekian lama iaitu kira-kira 82 tahun umat Islam di dunia ini telah diperkotak-katikkan, diperbodoh-bodohkan dan dibunuh habis-habisan tanpa pembelaan akibat lenyapnya satu kekuasaan Islam yang bergelar Khilafah. Inilah kekuatan yang telah runtuh, diruntuhkan oleh kaum Kuffar dan agen mereka.

Wahai kaum Muslimin! Bayangkanlah sekiranya Rasulullah masih bersama kita, adakah Rasulullah akan merestui apa yang kita lakukan. Apakah perbuatan sesetengah kita yang begitu gilakan bola ini akan mendapat pujian dari Rasulullah? Atau adakah Rasulullah akan membiarkan umatnya tenggelam dalam pesona kegilaan ini? Pernahkah kita terfikir tentang apakah harapan Nabi Sallallahu ‘alaihi wa Sallam kepada umatnya di akhir zaman? Adakah baginda mengharapkan umat Islam menjadi ’kaki bola’? Atau sebaliknya Nabi Sallallahu ‘alaihi wa Sallam mengharapkan umat Islam berjuang untuk menegakkan semula Deen Allah di muka bumi ini? Junjungan kita begitu kasihkan kita dengan meletakkan setinggi-tinggi harapan agar kita benar-benar berpegang kepada Islam. Malangnya, sebahagian dari kaum Muslimin tidak mengasihi baginda sebagaimana yang baginda harapkan. Saudaraku, inilah harapan Rasulullulah kepada kalian semua – mengembalikan semula kehidupan Islam dengan jalan mendirikan Daulah Khilafah sebagaimana yang baginda telah wariskan kepada para Khulafa’ur-Rashidun...
Diambil dari mykhilafah.com

Thursday, October 22, 2009

FIKRAH HIZBUT TAHRIR : kaedah-kaedah syara'

Fikrah yang dijadikan landasan bagi Hizbut Tahrir telah merasuk dalam diri pengikutnya, yang selalu diusahakan agar menjadi bagian dari umat serta yang dijadikan sebagai perkara utama mereka adalah fikrah Islam, yaitu (berupa) akidah Islam serta seluruh ide yang lahir dari akidah, termasuk seluruh hukum yang dibangun di atas akidah tadi. Hizbut Tahrir telah mengadopsi dari fikrah Islam ini perkara-perkara yang diperlukan oleh sebuah partai politik yang bertujuan ingin mewujudkan Islam di tengah-tengah kehidupan masyarakat, yaitu dengan merasukkan Islam ke dalam sistem pemerintahan, hubungan (interaksi) antara masyarakat, dan di seluruh aspek kehidupan.
Hizb telah menjelaskan segala sesuatu yang diadopsinya itu secara terperinci dalam buku-buku dan selebaran-selebaran, disertai dengan keterangan dan dalil-dalil yang rinci untuk setiap hukum, pendapat, pemikiran atau persepsinya. Berikut ini adalah beberapa contoh -secara garis besar- tentang hukum, pemikiran, persepsi dan pendapat Hizbut Tahrir yang paling menonjol.

KAEDAH-KAEDAH SYARA

[اَلأَصْلُ فِيْ الأَفْعَالِ التَّقَيُّدُ بِالْحُكْمِ الشَّرْعِي]
Asal dari perbuatan (selalu) terikat dengan hukum syara

Jadi, tidak boleh mengerjakan sesuatu kecuali setelah mengetahui lebih dahulu hukumnya.

[وَاْلأَصْلُ فِيْ الأَشْيَاءِ الاِبَاحَةُ مَا لَمْ يَرِدْ دَلِيْلُ التَّحْرِيْمِ]
Asal (hukum) dari sesuatu (barang atau materi) adalah ibahah (boleh) selama belum ada dalil yang mengharamkannya

Seorang muslim secara syar’i diperintahkan untuk menyesuaikan seluruh perbuatannya dengan hukum syara berdasarkan firman-Nya:
]فَلاَ وَرَبِّكَ لاَ يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ[

Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu (Muhammad) hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan. (TQS. an-Nisa [4]: 65)

]وَمَا ءَاتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا[

Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah ia, dan apa yang dilarangnya bagimu maka tingalkanlah. (TQS. al-Hasyr [59]: 7)

Hukum asal atas seorang muslim adalah terikat dengan hukum syara’. Definisi hukum adalah seruan (khithab) Syari’ (Allah Swt sebagai pembuat hukum-pen) yang terkait dengan perbuatan seorang hamba (manusia). Berdasarkan definisi tersebut maka segala sesuatu yang belum tercantum dalam seruan Allah Swt tidak dapat dianggap sebagai hukum syara’. Sementara itu setiap perbuatan atau segala sesuatu di dunia ini telah dijelaskan hukumnya oleh Allah Swt. Ini bisa dimengerti dari firman Allah Swt:
]الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ اْلإِسْلاَمَ دِينًا[

Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, telah Kucukupkan nikmatKu kepadamu dan telah Kuridhai Islam menjadi agamamu. (TQS al-Maidah [5]: 3)

]وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ[

Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur’an) yang berupa penjelasan terhadap segala sesuatu. (TQS an-Nahl [16]: 89)

Seruan Syari’ secara umum menjelaskan tentang bolehnya semua benda. Dan ibahah adalah salah satu hukum syara’, karena ibahah adalah perbuatan yang di dalamnya terdapat alternatif (pilihan dari Allah) untuk meninggalkan sesuatu atau untuk melaksanakan sesuatu, sesuai dengan firman Allah Swt:
]هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي اْلأَرْضِ جَمِيعًا[

Dialah Allah, yang menciptakan segala yang ada di bumi untuk kamu. (TQS al-Baqarah [2]: 29)

]وَسَخَّرَ لَكُمْ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَمَا فِي اْلأَرْضِ جَمِيعًا[

(Dan) Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya. (TQS al-Jatsiah [45]: 13)

Ini berarti bahwa segala sesuatu yang ada -baik di langit maupun di bumi- telah diciptakan dan ditundukkan oleh Allah Swt untuk manusia itu hukumnya mubah. Oleh karena itu (hukum) atas benda-benda tidak membutuhkan dalil khusus dan cukup dimasukkan ke dalam dalil umum, yaitu ibahah. Allah Swt berfirman:
]كُلُوا مِمَّا فِي اْلأَرْضِ حَلاَلاً طَيِّبًا[

Makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi. (TQS al-Baqarah [2]: 168)

Ayat tersebut menjelaskan bahwa pada dasarnya memakan segala sesuatu yang ada adalah halal (boleh). Untuk memakannya tidak diperlukan dalil khusus karena telah ada dalil umum (yaitu ibahah). Hanya saja terdapat larangan memakan bangkai, daging babi, binatang yang jatuh, binatang buas. Juga terdapat larangan minum khamar. Semua itu memerlukan dalil yang mengharamkannya. Hal ini merupakan pengecualian dari dalil umum yang telah membolehkan (makan atau minum sesuatu).
[مَا لاَ يَتِمُّ الْوَاجِبُ اِلاَّ بِهِ فَهُوَ وَاجِبٌ]
Tidak sempurna suatu kewajiban tanpa sesuatu, maka sesuatu tersebut menjadi wajib pula (hukumnya)

[إِسْتِصْحَابُ اْلأَصْلِ]
Segala sesuatu perbuatan ikut (turut terkait dengan) hukum asalnya

[أَنَّ الْخَيْرَ مَا أَرَضَ اللهُ وَ أَنَّ الشَّرَّ مَا أَسْخَطَهُ]
Sesungguhnya kebaikan itu adalah sesuatu yang diridhai Allah, dan keburukan itu adalah sesuatu yang dimurkai Allah

[أَنَّ الْحَسَنَ مَا حَسَّنَهُ الشَّرْعُ وَ أَنَّ الْقَبِيْحَ مَا قَبَّحَهُ]
Sesungguhnya perbuatan terpuji itu adalah apa yang dipuji oleh Allah, dan perbuatan tercela itu adalah apa yang dicela oleh Allah
[أَنَّ الْعِبَادَاتِ وَالْمَطْعُوْمَاتِ وَالْمَلْبُوْسَاتِ وَالْمَشْرُوْبَاتِ وَالأَخْلاَقِ لاَ تُعَلَّلُ وَيَلْتَزِمُ فِيْهَا بِالنَّصِّ]
Sesungguhnya hukum-hukum tentang ibadah, makanan, pakaian, minuman dan akhlaq tidak dapat direka-reka (dicari-cari ‘illat hukumnya), semua ketentuannya berdasarkan nash saja (sumber : Mengenal Hizbut Tahrir)

Wednesday, October 21, 2009

AQIDAH

Secara fitri, dalam diri manusia terdapat kecenderungan untuk mensucikan sesuatu (taqdis). Berdasarkan fitrahnya itulah, manusia melakukan ibadah terhadap sesuatu. Berarti ibadah merupakan manifestasi (hasil reaksi) alami dari naluri beragama (gharizah tadayyun). Oleh kerana itu manusia akan merasakan suatu ketentraman dan kebahagiaan, tatkala melakukan ibadah. Sebab ketika itu ia telah memenuhi tuntutan gharizah tadayyun.

Namun demikian masalah ibadah tidak boleh diserahkan begitu saja kepada persepsi dari dalam (Wijdan) untuk menentukan apa yang seharusnya diibadahi. Sebab hanya mengandalkan wijdan senantiasa memiliki kecenderungan terjadi kesalahan dan dapat menyeret ke jurang kesesatan. Sebagian besar sesembahan manusia yang disembah berdasarkan dorongan wijdan saja adalah suatu hal yang sebenarnya harus dilenyapkan dan sebagian besar yang disucikan oleh manusia berdasarkan wijdan saja adalah suatu hal yang harus direndahkan. Apabila wijdan dibiarkan menentukan sendiri apa yang selayaknya disembah oleh manusia, maka hal ini dapat membawa kepada kesesatan dalam beribadah yaitu selain kepada sang pencipta; atau dapat menjerumuskannya pada perbuatan khurafaat, dengan maksud untuk mendekatkan diri kepada Al-Khaliq, tetapi malahan menjauhkan dari Al-Khaliq.

Hal seperti itu bisa saja terjadi, sebab wijdan adalah suatu perasaan yang terbentuk dari naluriah semata (ihsaas gharizy); atau suatu perasaan yang muncul dari dalam manusia yang nampak akibat adanya suatu kenyataan yang diindera atau dirasakan berinteraksi dengan manusia, atau bisa juga muncul dari suatu proses pemikiran yang dapat membangkitkan perasaan itu apabila manusia kembali hanya mengandalkan perasaannya saja untuk sampai pada kesimpulan di atas tanpa disertai proses berfikir maka kemungkinan besar akan terjerumus dalam kesesatan atau kesalahan. Misalnya saja pada suatu malam anda melihat sebuah bayang-bayang hitam, sehingga menyangka itu adalah musuh. Maka anda akan digerakkan oleh naluri mempertahankan diri (gharizatul baqa') sebagai bentuk rasa takut. Kemudian perasaan anda mengambil reaksi terbaik yaitu dengan cara berlari. Tindakan seperti ini tentu saja merupakan suatu kesalahan, sebab anda telah berlari kerana takut terhadap sesuatu yang mungkin tidak ada. Dan andapun lari dari sesuatu yang seharusnya dilawan, sehingga reaksi anda adalah munculnya rasa takut yang (dengan berlari) adalah tindakan yang salah. Akan tetapi jika anda menggunakan akal dan memikirkan perasaan yang mencengkram diri anda, sehingga anda putuskan sikap reaksi yang seharusnya, maka akan jelaslah bagi anda, tindakan apa yang seharusnya dilakukan. Barangkali akan jelas kemudian, bahwa bayangan itu hanyalah sebuah tiang listrik, pohon, atau hewan, sehingga lenyaplah rasa takut dalam diri anda, dan anda dapat terus berlalu. Dan mungkin juga akan jelas bagi anda, bahwa bayangan itu adalah seekor binatang buas, sehingga tidak mungkin anda berlari dihadapannya. Anda harus berusaha mencari perlindungan; dengan memanjat pohon misalnya, atau berlindung di dalam rumah. Maka andapun akan selamat.

Oleh kerana itu, manusia tidak diperbolehkan (begitu saja) memenuhi tuntutan gharizah, kecuali disertai dengan penggunaan akal. Dengan kata lain, tidak boleh ia melakukan suatu tindakan yang semata-mata berasal dari dorongan wijdan saja, tetapi sebaliknya harus menggabungkan akal dengan wijdan. Berdasarkan hal ini maka taqdis (mensucikan sesuatu), harus dibangun berdasarkan proses berfikir yang disertai perasaan wijdan. Sebab taqdis adalah hasil manifestasi dari gharizah tadayyun. Bentuk manifestasi ini tidak boleh ada tanpa melalui proses berfikir, kerana dapat menjerumuskan manusia kejurang kesesatan dan kesalahan. Manusia, wajib memenuhi gharizah tadayyun, tetapi setelah melalui proses berfikir, yaitu setelah menggunakan akalnya. Oleh kerana itu, ibadah tidak boleh dikerjakan, kecuali sesuai dengan hasil penunjukan akal, sehingga ibadah itu benar-benar ditujukan kepada Dzat yang secara fithri patut disembah, Dialah Al-khaliq yang mengatur segala sesuatu, yang (DzatNya) senantiasa diperlukan manusia.

Akal manusia memastikan bahwa ibadah hanya dilakukan kepada Al-Khaliq, kerana Dialah yang mempunyai sifat azali (tak berawal dan berakhir) dan wajibul wujud (wajib keberadaannya). Manusia tidak boleh melakukan ibadah kepada selain Al-Khaliq. Dialah yang telah menciptakan manusia, alam semesta dan kehidupan ini, Yang memiliki sifat-sifat sempurna secara mutlaq. Jika seseorang telah meyakini keberadaanNya, maka ia akan mengharuskan dirinya untuk menyembah dan melakukan ibadah kepadaNya semata.

Adanya pengakuan bahwa Dia adalah Al-Khaliq, baik secara fithri ataupun aqliy, mengharuskan seseorang yang mengakuinya untuk beribadah kepadaNya. Sebab, ibadah adalah suatu bentuk manifestasi perasaannya terhadap keberadaan Al-Khaliq. Ibadah merupakan bentuk manifestasi rasa syukur tertinggi yang wajib dilakukan oleh makhluk kepada Dzat yang telah memberinya nikmat penciptaan dan pengadaan. Fithrah manusia dan akal manusia mengharuskan adanya ibadah. Sedangkan akal memastikan bahwa yang berhak disembah, disyukuri, dan dipuji adalah Al Khaliq, bukan selainNya (makhluk). Oleh kerana itu kita menyaksikan bahwa orang-orang yang pasrah (menyerahkan diri) hanya kepada wijdan saja sebagai bentuk manisfestasi taqdisnya tanpa menggunakan akalnya, mereka terjerumus dalam kesesatan sehingga menyembah banyak sesembahan, disamping pengakuannya terhadap wujud Al-Khaliq yang Wajibul Wujud dan bersifat tunggal (Esa). Akan tetapi ketika membangkitkan manifestasi gharizah tadayyun, mereka mensucikan yang lain. Mereka melakukan ibadah kepada Al Khaliq, tetapi juga sekaligus kepada makhluk-makhlukNya baik dengan anggapan sebagai Tuhan yang layak disembah atau menyangka bahwa Al Khaliq menitis pada suatu benda, ataupun menganggap Al Khaliq akan ridla apabila dilakukan taqarrub kepadaNya melalui penyembahan kepada benda-benda tersebut.

Fithrah manusia telah memastikan adanya Al-Khaliq. Tetapi manisfestasi taqdis yang harus dilakukan tatkala muncul sesuatu yang menggerakkan rasa keberagamaannya akan menyebabkan taqdis terhadap apa saja yang dianggapnya layak untuk disembah. Mungkin sesuatu itu dianggap sebagai Al-Khaliq, atau yang disangkanya sebagai Al-Khaliq akan ridla dengan tindakannya itu, atau dianggap Al-Khaliq menitis/menjelma pada benda yang ia sembah, disamping Al Khaliq Yang Maha Esa.

Oleh kerana itu, adanya persangkaan banyaknya tuhan yang disembah dialihkan kepada dzat yang disembah, bukan terhadap ada atau tidaknya Al-Khaliq. Maka penolakan terhadap adanya banyak tuhan yang disembah harus dijadikan sebagai penolakan dzat yang disembah (selain Allah), mengharuskan dan menjadikan ibadah semata-mata kepada al-Khaliq yang azali dan wajibul wujud.

Berdasarkan hal ini Islam datang sebagai landasan (hidup) bagi seluruh manusia. Islam menyatakan bahwa ibadah hanyalah dilakukan terhadap dzat yang wajibul wujud. Dialah Allah SWT. Islam telah menjelaskan secara rinci tentang semua itu melalui dorongan aqal secara jelas. Islam melontarkan pertanyaan tentang sesuatu yang wajib disembah. Merekapun menjawab, bahwa Dia adalah Allah. Mereka sendiri yang menetapkan buktinya. Allah SWT berfirman:

"Katakanlah, kepunyaan siapakah bumi ini dan semua yang ada padanya, jika kamu mengetahui? Mereka akan menjawab: 'Kepunyaan Allah'. maka apakah kamu tidak ingat ? Katakanlah: "Siapakah yang mempunyai langit yang tujuh dan yang mempunyai Arsy yang agung?'. Mereka akan menjawab; 'Kepunyaan Allah'. Katakanlah:'Maka apakah kamu tidak bertaqwa?'Katakanlah :'Siapakah yang ditanga-nNya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang dia melindungi dari (adzab)-Nya, jika kamu mengetahui?'Mereka akan menjawab: 'kepunyaan Allah'. Maka dari jalan manakah kamu ditipu? Sebenarnya kami telah membawa kebenaran kepada mereka, dan sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang yang berdusta. Allah sekali-kali tidak mempunyai anak, dan sekali-kali tidak ada tuhan lain besertaNya. Kalau ada tuhan lain besertaNya masing-masing tuhan itu akan membawa makhluk yang diciptakan-Nya,dan sebagian tuhan itu akan mengalahkan sebagian yang lainnya."

(QS Al Mu'minuun: 84-91)

Dengan pengakuan bahwasanya Allah pencipta segala sesuatu, ditangan-Nyalah terletak kekuasaan atas segala sesuatu maka mereka pun telah mengharuskan diri mereka sendiri untuk beribadah kepada Allah semata. Sebab sesuai dengan pengakuan mereka ini, hanya Dialah (Allah) yang berhak disembah. Dalam banyak ayat lainnya dijelaskan, bahwa selain Allah, tidak dapat berbuat apapun yang dapat menjadikannya layak disembah sebagaimana ayat-ayat yang dibawah ini:

"Katakanlah, tunjukkanlah kepadaku jika Allah mencabut pendengaran dan penglihatan serta menutup mata hatimu. Siapakah tuhan selain Allah yang mampu mengembalikan kepadamu?" (QS Al An'aam: 46)

"Ataukah mereka mempunyai tuhan selain Allah?" (QS Ath-Thuur: 43)

"(Dan) Tuhanmu adalah yang Maha Esa. Tidak ada Tuhan selain Dia yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang." (QS Al Baqarah: 163)

"Tidak ada Tuhan selain Dia (Allah)." (QS Al-Baqarah: 255).

"(Dan) sekali-kali tidak ada Tuhan selain Allah, yang Maha Esa dan Maha Mengalahkan" (QS Shaad: 65)

"Padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain Tuhan yang Maha Esa (Allah)" (QS Al Maidah: 73)

Semua ayat di atas menunjukkan tidak ada yang berhak disembah, kecuali Dzat yang wajibul wujud. Dialah Allah yang Maha Esa.

Islam datang dengan ajaran "Tauhidul ibadah" terhadap Dzat yang wajibul wujud, yang secara aqliyah maupun fitri, telah ditetapkan keberadaanNya. Banyak ayat-ayat Al Qur'an memberi petunjuk yang gamblang, yang menolak adanya banyak sesembahan .

"Ilaah", menurut arti bahasa, tidak memiliki arti lain, kecuali "Yang disembah" (Al Ma'buud). Dan secara syar'i tidak ditemukan adanya arti lain, selain arti itu. Maka arti "laa ilaaha", baik secara lughawi atau syar'iy, adalah "laa ma'buuda". Dan "illallah", secara lughawi ataupun syar'iy, artinya adalah Dzat yang wajibul wujud, yaitu Allah SWT.

Berdasarkan hal ini, makna dari syahadat pertama dalam Islam, bukanlah kesaksian atas ke-Esaan Al-Khaliq semata, sebagaimana anggapan kebanyakan orang. Tetapi arti yang dimaksud dalam syahadat tersebut adalah adanya kesaksian bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, yang memiliki sifat wajibul wujud, sehingga peribadahan dan taqdis semata-mata hanya untukNya. Dan secara pasti menolak serta menyingkirkan segala bentuk ibadah kepada selain Allah SWT.

Jadi, pengakuan terhadap adanya Allah, tidaklah cukup sekadar pengakuan tentang ke-Esaan Al-Khaliq, tetapi harus disertai adanya pengakuan terhadap ke-Esaan. Sebab, arti "laa ilaaha illallah" adalah "laa ma'buuda illallaahu". Oleh kerana itu, syahadat seorang muslim, yaitu bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, mewajibkan kepada dirinya untuk melakukan ibadah hanya kepada Allah, dan membatasi ibadahnya semata-mata kepada Allah saja, sehingga arti tauhid di sini adalah "Tauhidut taqdis" terhadap Al-Khaliq, yakni "Tauhidul ibadah" kepada Allah Yang Maha Esa.

SIS – TUNGGULAH KEADILAN ALLAH KE ATAS KAMU!

[SN191] Sehingga kini, hukuman ke atas Kartika, model yang mengaku salah meminum arak dan dijatuhkan hukuman enam kali sebatan oleh Mahkamah Syariah Pahang, masih belum dilaksanakan. Kartika yang mengaku telah insaf dan redha disebat masih tidak berganjak dari pendiriannya. Namun ada pihak lain yang terpekik terlolong ingin membela nasib Kartika kerana hukuman sebat tersebut yang dikatakan zalim ke atas wanita. Siapa lagi kalau bukan Sisters in Islam (SIS) dan sekutu-sekutu mereka dari aliran liberalisme? Dari mula kes ini diputuskan lagi, SIS telah berkokok di sana sini kerana tidak berpuas hati dengan keputusan Mahkamah hingga mereka akhirnya memfailkan satu permohonan semakan kehakiman untuk mendapatkan perintah penggantungan atau pindaan atau pembatalan terhadap pelaksanaan hukuman sebat ke atas Kartika.

Tidak cukup dengan itu, satu perisytiharan bersama telah dikeluarkan oleh Kumpulan Tindakan Bersama untuk Persamaan Jantina (JAG) yang terdiri daripada SIS, Persatuan Kesedaran Komuniti Selangor (EMPOWER), Women's Aid Organisation (WAO), All Women's Action Society (AWAM) and Women’s Centre for Change, Penang (WCC); Suara Rakyat Malaysia (SUARAM); dan Persatuan Kebangsaan Hak Asasi Malaysia (HAKAM) [http://www.sistersinislam.org.my/index.php?option=com_content&task=view&id=972&Itemid=1]. Dari kenyataan bersama ini, tidak ada lain yang terzahir darinya kecuali wajah hodoh SIS dan golongan liberal yang semakin terselak dengan menampakkan segala kudis dan kurapnya.

Dalam menangani isu Kartika ini, sebagai Muslim kita hendaklah sedar bahawa hukuman 6 sebatan yang dijatuhkan oleh mahkamah syariah bukanlah hukum Islam. Sememangnya tidak ada apa yang perlu dibanggakan dengan keputusan mahkamah tersebut kerana mahkamah telah jelas-jelas menjatuhkan hukuman sekular berdasarkan enakmen syariah negeri Pahang yang tunduk kepada Perlembagaan Persekutuan. Kedua-duanya merupakan undang-undang buatan manusia yang bercanggah seratus peratus dengan Al-Quran dan Sunnah. Kejahilan dan kekeliruan SIS adalah apabila mereka menganggap bahawa hukuman 6 sebatan itu sebagai hukuman syariah. Ini jelas dari kenyataan mereka yang berbunyi,

“Jika hukuman sebat dilakukan ke atas seorang wanita di bawah undang-undang Syariah, ia akan mewujudkan satu preseden yang buruk di Malaysia - terutama sekali apabila kaum wanita telah dinyatakan dengan jelas - tidak boleh disebat di bawah S289 Kanun Acara Jenayah”.

Dari kenyataan ini, sudah terang lagi bersuluh bahawa SIS bukan sahaja menolak hukuman 6 sebatan, malah mereka menolak hukum syariah dan mereka lebih rela berhukum dengan hukum taghut buatan manusia di bawah Kanun Acara Jenayah! Firman Allah SWT,

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang telah diturunkan kepadamu (Al-Quran) dan kepada apa yang telah diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada taghut, padahal mereka telah diperintahkan mengingkari taghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya” [TMQ an-Nisa’ (4):60].

Kita semua maklum bahawa hukuman ‘sebat’ (dengan jumlah yang betul) adalah sebahagian dari hudud Allah, namun kita menyaksikan betapa jahil, angkuh dan sombongnya SIS yang langsung tidak mahu hukuman sebat dan hukuman syariah dijatuhkan ke atas wanita. Jika dengan hukuman 6 sebatan tersebut SIS telah pun meracau dan merapu tak tentu hala, apatah lagi jika hukuman Islam sebenar (yakni) 40 atau 80 kali sebatan dijatuhkan? Tentunya SIS akan semakin dirasuk syaitan. Alangkah beraninya SIS menolak hukum Allah!

SIS – Rosak Lagi Merosakkan

Lebih buruk, dalam kenyataan mereka, SIS dan sekutu-sekutu liberalnya menyatakan bahawa

“Sebagai pembela hak asasi manusia, kami berkomited untuk mendapatkan perlakuan yang melindungi hak asasi beliau serta juga mereka yang lain dalam keadaan yang serupa, serta untuk memastikan bahawa tidak terdapat kemerosotan standard hak asasi manusia di Malaysia. Keputusan yang dibuat oleh Kartika boleh dibandingkan dengan keputusan yang dibuat oleh balu beragama Hindu pada masa lampau. Amalan ‘sati’ (kini terlarang di India) di mana balu yang masih hidup dibakar bersama-sama mayat suaminya.”

Apakah patut pengakuan dan redha Kartika untuk disebat dibandingkan dengan undang-undang Hindu yang sesat lagi menyesatkan? Secara logiknya SIS yang memperjuangkan hak wanita sepatutnya bersetuju dan memberi sokongan padu kepada Kartika untuk menjalani hukuman tersebut, ini barulah dikatakan membela wanita. Sebaliknya, kita melihat betapa songsangnya SIS yang kononnya ingin membela wanita, namun mereka sendiri telah menafikan hak wanita (Kartika) yang telah rela dirinya dihukum. Dari sini jelas bahawa SIS sebenarnya bukannya membela wanita, jauh sekali menjadi pembela Islam, tetapi sebenarnya SIS adalah pembela hukum kufur! SIS sesungguhnya adalah pembela ‘hak asasi’ yang berasal dari Barat. Hak asasi manusia (human rights) merupakan senjata yang diciptakan oleh kuffar Barat untuk mengelirukan dan menjauhkan umat Islam dari hukum Islam. Dengan adanya konsep ‘hak asasi’, Barat telah berjaya menjadikan ‘standard’ atau pegangan hidup seorang Muslim untuk dinisbahkan kepada hak asasi, bukan lagi dinisbahkan kepada hukum syarak. Betul atau salah sesuatu perbuatan atau hukuman itu hendaklah diukur dengan hak asasi, bukannya dengan Al-Quran dan Sunah. Inilah kehendak Barat dan inilah perjuangan yang dibawa SIS (yakni) meninggikan atau memartabatkan hak asasi manusia dengan meninggalkan Al-Quran dan Sunnah.

Lebih jauh, kenyataan media tersebut menyebut

“Kami menggesa agar pihak Kerajaan Persekutuan dan Negeri mengkaji semula hukuman sebat sebagai satu bentuk hukuman kerana ia mencabuli prinsip hak asasi manusia antarabangsa yang menganggap hukuman sebat dan bentuk hukuman dera yang lain sebagai kejam, tidak berperikemanusiaan dan perlakuan yang menjatuhkan maruah.”

Sekali lagi SIS menggunapakai undang-undang taghut hak asasi manusia antarabangsa sebagai hujah. Sedangkan telah nyata bahawa deklarasi hak asasi manusia yang diasaskan pada tahun 1948 itu adalah sebuah prinsip yang dicipta oleh kuffar Barat. SIS nampaknya telah menjadikan orang-orang kafir (yang mewujudkan deklarasi) sebagai ‘kayu ukur’ dalam menentukan kesesuaian sesuatu hukuman. Di manakah SIS letakkan Al-Quran dan al-Hadis? Butakah SIS bahawa perbuatan meminum minuman syaitan itu sendiri adalah suatu yang tidak bermaruah menurut Islam? ‘Perbuatan’ terkutuk itu tidak pula dipersoalkan oleh SIS (dari segi bermaruah atau tidak), sebaliknya ‘hukuman’ ke atas peminumnya pula yang dipersoalkan. Tidakkah SIS pernah mendengar sepanjang hidup mereka bahawa Allah SWT berfirman,

“Barangsiapa yang tidak berhukum dengan apa yang Allah turunkan, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim.” [TMQ al-Ma’idah (5):45].

Jadi, siapakah pihak yang kejam di sini? Orang yang ingin berhukum dengan hukum Allah, atau pihak SIS yang ingin berhukum dengan hukum hak asasi manusia antarabangsa?

SIS menganggap hukuman sebat sebagai mencabul hak asasi manusia dan tidak berperikemanusiaan. Inilah pendapat SIS yang ‘sefikrah’ dengan orang-orang kafir dalam perjuangan hak asasi manusia. Anehnya SIS tidak pula mempertikaikan atau memperjuangkan penghapusan sebat yang telah lama wujud dalam kes sivil, yang jauh lebih kejam cara pelaksanaannya. Namun, bila hukuman tersebut ada ‘unsur syariah’, maka SIS terus mempertikaikannya. Hati SIS nampaknya benar-benar telah tertutup dari memahami ayat-ayat Allah,

“Perempuan yang berzina dan lelaki yang berzina, maka sebatlah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali sebatan; dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah dan hari akhirat; dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan dari orang-orang yang beriman.” [TMQ an-Nur (24):2].

Betapa jauhnya SIS dan sekutu-sekutunya terpesong dari kebenaran. Alangkah sesatnya cara berfikir golongan liberal ini yang menjadikan pemikiran kufur Barat sebagai sandaran hukum dengan mengenepikan nas-nas sahih dari Al-Quran dan Hadis. Sesungguhnya golongan inilah yang disayangi dan dimuliakan oleh Barat, dan menjadi agen mereka dalam usaha mereka untuk menghancurkan Islam. Bertambah malang, apabila para pemimpin sekular tetap membenarkan golongan ini bergerak di dalam masyarakat, malah menyokong serta memberi bantuan kepada pergerakan ini.

SIS Penyokong Sekular

Sejarah Islam telah merakamkan berapa ramai pesalah wanita yang mengaku dengan kesalahan yang mereka lakukan dan redha dengan hukuman sebat ke atas mereka. Hal ini menunjukkan ketundukan mereka kepada hukum Allah dan kesedaran mereka akan azab Allah di Akhirat. Kes perempuan Ghamidiyyah sebagai contoh, demi untuk meraih keredhaan Allah SWT dan kebahagiaan di akhirat, Ghamidiyyah telah mengakui perzinaannya dan bersedia untuk dihukum. Beliau mendatangi Rasulullah SAW untuk disucikan (dari dosa) dengan meminta Rasulullah menjalankan hukuman rejam ke atasnya yang telah berzina. Ghamidiyyah kemudian direjam hingga mati. Rasulullah SAW seterusnya bersabda,

“Sungguh dia telah bertaubat, seandainya dibahagi (taubatnya) antara 70 penduduk Madinah, sungguh akan mencakup semuanya.”

Seorang Muslimah yang sedar dan takut akan azab Allah di Akhirat, akan pasti meminta agar Negara menjatuhkan hukuman Allah ke atas kesalahan mereka semasa di dunia agar seksa akhirat bagi mereka gugur, sebagaimana permintaan Ghamidiyyah kepada Rasulullah SAW, “Ya Rasulullah, sucikanlah aku!” Mereka mengakui kesalahan yang mereka lakukan dan mahu dihukum menurut hukum Allah sehingga mereka terlepas dari azab Allah di Akhirat. Mereka rela menanggung sakitnya had Allah di dunia, kerana takut akan azab Allah yang lebih berat menanti di Akhirat. Inilah sifat seorang Muslimah yang beriman kepada Allah, tidak sebagaimana SIS yang bukan sahaja tidak redha dengan hukuman syariah, malah menentangnya habis-habisan dan ingin diganti dengan hukum kufur buatan manusia! Masya Allah!

Kita mengingatkan SIS dengan Firman Allah,

“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu (Wahai Muhammad) hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya” [TMQ An Nisa’ (4):65].

Kita wajib yakin bahawa hukuman yang wajib dijalankan ke atas Kartika adalah had Allah, sama ada 40 atau 80 kali sebatan. Dan hudud Allah sama sekali tidak boleh diubah, dipinda atau dihapuskan. Hudud adalah hak Allah dan wajib dijalankan biarpun golongan kafir, munafik, golongan liberal dan sekular membencinya sekalipun. Berdasarkan ayat ini, jika seseorang itu menolak hukum Allah dan Rasul, serta tidak pasrah/redha kepadanya, maka tidak ada lagi keimanan dalam diri seseorang itu.

Selain mendedahkan kesongsangan pemikiran SIS, kami juga ingin mengingatkan kepada golongan wanita mahupun lelaki mahupun gerakan Islam yang bersetuju dan menyokong Kartika untuk menjalani hukuman 6 sebatan, sedarlah bahawa hukuman 6 sebatan yang akan dijalani oleh Kartika itu bukanlah hukuman Islam dan kita tidak boleh bersetuju dengannya. Kita sewajibnya bersetuju jika hukuman yang dijatuhkan adalah benar-benar hukuman hudud yakni sama ada 40 atau 80 kali sebatan. Sekiranya kalian adalah golongan yang ingin memperjuangkan hukum Allah, janganlah berjuang di jalan yang keliru. Dalam kalian memperjuangkan hukum Allah, janganlah terjerumus dengan tindakan atau kelakuan yang sama seperti mana golongan liberal/sekular yang membelakangkan undang-undang Allah dan Rasul. Dalam pada kita tidak bersetuju dengan SIS yang menolak hukum syariah, janganlah pula kita terkeliru dan bersetuju dengan hukuman 6 sebatan yang hakikatnya juga bukan hukum syariah. Sesungguhnya hukuman 6 sebatan yang dijatuhkan oleh mahkamah juga adalah hasil produk sekularisme. Hukuman itu bukannya datang dari Quran dan Sunnah, tetapi hasil produk pembuatan undang-undang di Parlimen di bawah sistem demokrasi yang membenarkan manusia membuat undang-undang dengan suara majoriti.

Allah Azza wa Jalla mengingatkan kita,

“Dan tidaklah patut bagi lelaki yang mukmin dan tidak (pula) perempuan yang mukmin, apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan RasulNya, maka sesungguhnya dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata” [TMQ al-Ahzab (33):36].

Ingatlah wahai kaum Muslimin bahawa menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah semata-mata. Manusia, baik lelaki mahupun wanita tidak ada hak untuk memilih hukumnya sendiri. Siapakah SIS yang ingin mempersoalkan hukum Allah? Malah lebih hina, SIS sanggup mengatakan undang-undang syariah sebagai kejam, tidak berperikemanusiaan dan tidak bermaruah. Alangkah dahsyatnya pemikiran sekular yang ada pada SIS sehingga ke tahap mereka ingin merubah hukum Allah. Sesungguhnya SIS bukanlah pembela wanita, sebaliknya pembela hawa nafsu yang mahu menundukkan Islam mengikut kehendak mereka. Demi Allah! SIS sebenarnya bukanlah pembela Islam, sebaliknya mereka adalah pembelot Islam. SIS langsung tidak layak untuk digelar Sisters In Islam, namun selayaknya mereka digelar Sisters In Secularism!

Khatimah

Wahai Sisters In Secularism! Tidak pernahkah kamu takut dan bertaubat kepada Allah, yang menciptakan kamu dari tidak ada kepada ada, dari setitis air mani kemudian menjadi segumpal daging dan kemudian Allah meniupkan ruh (ciptaan)Nya kepada kamu dan dengan ruh itu kamu hidup. Setelah itu kamu dilahirkan ke dunia melalui rahim ibu-ibu kamu. Allah membesarkan kamu dan memberi rezeki kepada kamu. Dan Allah mengurniakan akal kepada kamu yang tidak dikurniakanNya kepada binatang. Namun, akal itu kamu gunakan untuk mempertikaikan dan merubah hukum Allah, bukan untuk memahaminya dan menerapkannya. Tidak takutkah kamu kepada Allah, Zat Yang Maha Kuasa yang akan merentap nyawa kamu dalam masa sesaat sahaja. Kemudian kamu akan ditelan bumi dan Allah akan bangkitkan semula kamu untuk disoal dari segala perbuatan yang telah kamu lakukan di dunia ini. Pada hari itu, hanya Allah sahajalah yang berkuasa mengampuni segala dosa-dosa kamu, jika Dia menghendakinya. Dan pada hari itu Allah jualah yang pasti akan mengazab kamu, jika Dia menghendakinya. Maka, tunggulah keadilan Allah ke atas kamu pada hari itu..



Diambil dari : www.mykhilafah.com